NYEPI │ “Mulat Sarira” Diawal Tahun Baru Saka

228

Oleh : I Waya Supadma Kerta Buana

Memasuki setiap pergantian tahun baru setiap orang akan memiliki harapan besar untuk menjadi lebih baik dalam setiap perjalanan kehidupannya. Semua orang akan berharap lebih baik dan lebih sukses pada tahun berikutnya. Harapan untuk lebih baik merupakan hak setiap orang karena hal tersebut  berkaitan dengan kebahagiaan setiap individu. Tahun baru selalu diyakini akan membawa nasib baik dan diharapkan menjadi tonggak awal dalam memasuki hari-hari baik berikutnya.

Momen tahun baru seharusnya tidak hanya menjadi sebuah momen pengharapan hal yang lebih baik saja. Tahun baru juga mesti disertai dengan penyadaran diri tentang semua hal yang telah dilakukan sebelumnya. Kesadaran diri ini bertujuan untuk memamahi kesalahan dan kekurangan diri yang telah dilakukan sehinga dapat disempurnakan di tahun berikutnya untuk mencapai harapan-harapan yang telah diinginkan.

Nyepi sebagai sebuah kearifan lokal masyarakat Bali dalam memasuki tahun baru saka tentunya telah mengajarkan kepada kita tentang penyadaran diri tersebut. Memaknai tahun baru saka tidak hanya dilakukan dengan cara mengharapkan hal baik yang akan terjadi di tahun berikutnya, akan tetapi harapan yang disertai dengan menyadari diri dan melaksanakan brata (pantangan) penyepian akan menjadi sangat penting untuk dilakukan menuju arah yang lebih baik.

Penyadaran diri  biasa disebut juga dengan kata  mulat sarira yang berarti introspeksi diri, memahami jati diri, dan menemukan kesalahan diri kemudian memperbaikinya untuk menjadi lebih baik. Mulat sarira itu penting meskipun secara umum manusia merupakan mahluk sosial yang berarti manusia tidak bisa hidup sendiri, akan tetapi dalam kehidupannya manusia juga merupakan mahluk individu yang berarti dalam menemukan jati dirinya manusia harus merefleksi diri atau mulat sarira oleh dirinya sendiri. Seperti  disebutkan dalam Pustaka Suci Hindu Manawa Dharma Sastra Bab IV 240:

 “Bahwa manusia lahir sendiri, sendiri juga ia akan mati, sendiri ia menikmati yang baik, sendiri pula menikmati perbuatan yang buruk

Sebagai mahluk individu setiap manusia memiliki karma wesana yang melekat pada diri masing-masing manusia. Karma baik dan buruk yang dihasilkan manusia itu sendiri akan selalu mengikuti kehidupannya. Hal ini diibaratkan seperti sebuah bayangan yang akan selalu mengikuti setiap langkah manusia. Pada setiap kehidupannya hanya manusia itu sendiri yang bisa memperbaiki dirinya sendiri. Perbuatan itu ditentukan oleh dirinya sendiri baik menuju karma baik (Subakarma) ataupun mengarah pada karma yang tidak baik (Asubakarma). Seperti kutipan Sarasamuscaya sloka 4 yang menyebutkan

Apan iking dadi wang , utama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sang sara makasadhanang subhakarma hinganing kottamamning dadi wang ika”

Artinya: Menjelma menjadi manusia ini adalah, sungguh utama, sebabnya demikian karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang ulang) dengan jalan berbuat baik, demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

Nyepi inilah kemudian momen yang tepat untuk menyadarkan diri sebagai mahluk individu dalam memahami kesalahan yang telah dilakukan untuk diperbaiki di tahun berikutnya. Melalui nyepi setiap individu diharapkan menyadari diri untuk senantiasa memperbaiki diri dari segala tindakan untuk menuju kearah yang lebih baik. Nyepi merupakan sebuah hari yang tepat untuk menyadarkan diri bahwa yang mampu memperbaiki diri adalah dirinya sendiri, dan setiap apa yang dilakukan akan diterima sebagai hasil karma oleh dirinya sendiri pula. Sehingga pada tahun baru saka diharapkan menjadi cerminan dalam menyiapkan diri menjadi individu yang berkualitas baik menuju tahun baru berikutnya.

Sekilas  tentang Nyepi

Secara historis nyepi merupakan hari untuk memperingati tahun baru saka yang diperkenalkan pertama kali oleh raja berasal dari India bernama Kaniska. Perhitungannya tahun saka dimulai  pada tahun 78 Masehi. Hari suci nyepi jatuh setiap tahun sekali tepatnya pada penanggal apisan (penanggal pertama) sasih kedasa. Sehingga dalam perhitungannya hari suci nyepi diperingati setiap tahun sekali sebagai tahun baru saka.

Pengertian nyepi berasal dari kata sepi yang artinya senyap, nyepi sendiri berarti tanpa aktivitas. Segala aktivitas masyarakat Bali secara total dihentikan satu hari penuh pada saat hari suci Nyepi. Pada hari suci nyepi terdapat empat brata yang wajib dilaksanakan yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak melakukan pekerjaan), amati lelanguan (tidak melakukan pesta makanan), dan amati lelungan (tidak bepergian).

Hari suci nyepi merupakan simbol harmonisasi manusia dengan alam semesta sebagai wujud keselarasan dan keseimbangan dunia. Nyepi juga merupakan permohonan kepada Tuhan untuk keseimbangan dan penyucian bhuana alit (manusia) dan bhuana agung (alam semesta). Kesadaran dan mulat sarira juga merupakan inti dari sebuah pelaksanaan hari suci Nyepi dengan pelaksanaan brata-bratanya.

Rangkaian hari suci Nyepi

Melasti/mekiis

Melasti merupakan sebuah kegiatan ritual yang dilaksanakan tiga atau dua hari sebelum hari suci nyepi yang bertujuan  untuk menyucikan alam semesta beserta isinya. Kegiatan ini biasanya dilakukan di sumber air bagi masyarakat yang tinggal di pegunungan dan di pantai bagi masyarakat Bali yang berada di daerah yang dekat dengan laut.  Di dalam Lontar Sang Hyang Aji Swamandala disebutkan:

“Melasti ngarania ngiring prewatek dewata angayutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuawana, ngamet sarining amerta ring telenging segara”.

Artinya : Melasti berarti membawa prelingga (arca) untuk membuang penderitaan dunia, kesalahan dan kekotoran dunia ( alam ), dan kemudian mengambil sari-sari kehidupan di tengah lautan.

Melasti merupakan ritual untuk menyucikan alam semesta beserta isinya dengan mengambil sari-sari kehidupan di tengah lautan. Laut merupakan salah satu tempat yang paling disucikan oleh umat Hindu. Hal ini mengingat samudra merupakan tempat menampungnya segala macam air yang ada dimuka bumi ini. Sehingga lautan diidentikan dengan tempat untuk membersihkan diri dan membuang segala kekotoran yang ada di dalam diri dan kemudian memohon kesucian yang bersumber dari lautan itu.

Tawur Agung Kesanga

Tawur agung kesanga jatuh pada tilem sasih kesanga yaitu tepat sehari sebelum hari suci nyepi. Tawur agung kesanga biasanya dilaksanakan disetiap daerah baik kabupaten/kota, kecamatan, sampai pada desa pakraman masing-masing daerah. Ritual ini merupakan bagian dari upacara butha yadnya yang dilaksanakan dengan mecaru bertempat di perempatan agung kabupaten/kota maupun disetiap desa pakraman di Bali.

Pada sore harinya dilanjutkan dengan pengrupukan dilaksanakan dengan mengarak ogoh-ogoh keliling desa  disertai dengan membawa obor. Ogoh-ogoh merupakan simbol  dari kekuatan buta kala yang diwujudkansebagai sosok buta kala yang  kemudian diharapakan kekuatanya bisa dinetralisir sehingga tidak mengangu kehidupan manusia. Obor yang digunakan untuk menerangi gelapnya sore hari pada saat pengerupakan bisa diartikan sebagai sebuah harapan bahwa setelah buta kala yang diwujudkan dalam bentuk ogoh-ogoh telah disomia (netralisir) kemudian manusia memperoleh jalan yang terang untuk menjalani kehidupannya.

Tawur agung kesanga juga disimbolkan sebagai harmonisasi alam agar terjadinya keseimbangan bhuana alit (manusia) dan bhuana agung (alam semesta). Buta yang merupakan bagian dari alam identik dengan kekuatan jahat akan menjadi kekuatan baik. Tujuan dari tawur agung itu sendiri adalah mengembalikan unsur-unsur jahat dari buta kala untuk menjadi unsur baik. Buta sendiri diyakini sebagai perwujudan dari dewa-dewa dan dengan dilaksanakan buta yadnya, diharapkan buta kala akan kembali menjadi wujud dewa di kayangannya masing-masing.

Puncak Hari Suci Nyepi

Puncak hari suci nyepi jatuh pada penanggal apisan (penanggal pertama) sasih kedasa yang pelaksanaanya dilakukan dengan sipeng (sepi). Pada pelaksanaan Nyepi dilaksanakan brata penyepian yang terdiri dari empat yaitu  amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak melakukan pekerjaan), amati lelanguan (tidak melakukan pesta makanan), dan amati lelungan (tidak bepergian).

Amati geni tidak boleh menyalakan api jika dikaitkan dengan mulat sarira bahwa api adalah simbol kemarahan (kroda). Api identik dengan panas, menyala-nyala, dan selalu menyambar. Mulat sarira dalam bentuk amati geni adalah mengurangi rasa marah yang ada pada diri manusia. Pada hari suci nyepi seseorang diharapkan mampu menjaga kemarahannya dan menekan kemarahannya agar tidak berakibat buruk terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.

Amati karya yaitu tidak boleh melakukan pekerjaan, manusia dalam hidupya haruslah bekerja karena jika tanpa kerja duniapun akan berhenti. Akan tetapi pada hari suci nyepi amati karya berarti menghentikan sejenak rutinitas kerja sebagai sebuah penyadaran diri tentang kualitas diri. Amati karya lebih menekankan pada kesadaran diri tentang hasil gerak kerja yang telah dilakukan sebelum-sebelumnya yang kemudian bisa diperbaiki untuk menjadi lebih baik kedepannya.

Amati lelanguan yaitu tidak boleh berpesta pora, jika dihubungakan denga mulat sarira atau introspeksi diri maka amati lelanguan lebih pada penyadaran diri tentang sebuah makanan yang berpengaruh pada kesehatan diri atau dampak yang ditimbulkan oleh kelebihan makan. Kelebihan makan akan berakibat buruk terhadap kesehatan diri sendiri, sehingga untuk makanpun semestinya harus memperhatikan berbagai hal baik segi kesehatan maupun pantangan dalam agama Hindu. Amati lelanguan bisa juga diartikan sebagai pelaksanaan puasa tanpa makan seharian penuh pada hari suci nyepi.

Amati lelungan yaitu tidak boleh berpergian dalam hal ini berpergian merupakan sebuah salah satu bentuk keinginan. Pada hari suci nyepi diharapkan keinginan untuk pergi hanya sehari pada saat nyepi saja agar dibatasi. Menghentikan sejenak aktivitas berpergian pada hari suci nyepi merupakan landasan seseorang untuk menyadarkan diri dengan tapa. Momen hari suci nyepi juga sangat baik digunakan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dalam bentuk sembahyang ataupun melakukan meditasi, dimana meditasi merupakan bentuk kesunyian dan keheningan pikiran.

Ngembak Geni

Ngembak geni merupakan rangkaian pelaksanaan nyepi yang dilaksanakan sehari setelah rangkaian hari suci nyepi. Pada hari ngembak geni segala aktivitas kembali dilakukan seperti semula. Biasanya ngembak geni dijadikan sebagai kegiatan dharma santih sebagai kunjungan ketempat saudara dan berkumpul dengan saudara besar dengan saling memaafkan sehingga bisa menjalani tahun baru yang lebih baik.

Pada saat ngembak geni merupakan waktu yang tepat untuk mengukur diri dalam bentuk perbuatan baik maupun perbuatan tidak baik yang pernah dilakukan tahun sebelumnya. Saling memaafkan antar keluarga maupun sahabat sebagai kesadaran akan kesalahan yang pernah dilakukan juga menjadi momen yang tepat dilakukan pada hari tersebut. Setiap orang memiliki kesalahan yang disebabkan oleh kesengajaan maupun ketidak sengajaan sehingga hal itu perlu direnungkan dan diperbaiki agar tidak terulang dikemudian hari.

Kesimpulan

Hari suci nyepi merupakan hari yang tidak hanya menjadi serimonial ritus keagamaan saja. Pelaksanaan nyepi harus dimaknai sebagai sebuah perenungan diri (mulat sarira) dalam memasuki tahun baru berikutnya. Rangkaian hari suci memberikan kesempatan setiap orang untuk memahami dirinya sendiri agar senantiasa menjadi seseorang yang lebih baik.

Menghentikan segala aktivitas pada hari suci nyepi memberikan pelajaran besar kepada kita dan juga alam semesta. Segala rutinitas yang telah menyibukan kita dihentikan sejenak hanya pada satu hari saja. Pada saat itulah seseorang diberikan kesempatan untuk merenungi segala kekurangan ataupun segala aktivitas yang dilaksanakan selama setahun yang telah dilalui. Kekurangan itu kemudian direnungkan penyebabnya sehingga dapat  diperbaiki untuk menjadi individu yang lebih baik tanpa mengulangi kesalahan yang telah diperbuat sebelumnya.

Memulai tahun baru dengan mulat sarira merupakan sebuah usaha untuk menyadarkan diri tentang kekurangan diri kemudian akan diperbaiki di tahun berikutnya. Tahun baru kemudian tidak hanya menjadi sebuah momen untuk mengucapkan harapan-harapan baik saja akan tetapi dengan pelaksanaan hari suci nyepi kita diajarkan bahwa tahun baru adalah pedoman bagi seseorang untuk lebih mengintrospeksi dirinya dengan pengendalian diri dan menyiapkan diri menjadi lebih baik di tahun berikutnya.

Comments

comments