Prosesi ritual mengelilingi desa (nyatur desa) (foto ist)

SULUH BALI, Amlapura – Setiap tahun sekali tepatnya pada hari kajeng kliwon uwudan sasih kawulu, Prelingga Sesuhunan Desa Pakraman Ipah, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem menggelar ritual nyatur desa sebagai awal tradisi “Mecangcang”.

Mecangcang sendiri merupakan tradisi dimana prelingga yang berupa barong, rangda dan sisya-sisyanya dilinggihkan (distanakan) di pelataran jaba sisi pura puseh selama abulan pitung dina (42 hari).

“Kata mencangcang itu berarti dibentangkan dan diikat dengan tali, yang mana Ida Bhatara Sakti dan Ida Ratu Ayu serta rencang-rencang beliau dilinggihkan dengan dicangcang pada sebuah pelinggih berbentuk wewarungan di jaba paling luar dari pura tepatnya di halaman balai banjar. Selama upacara ini berlangsung halaman ini disucikan,” jelas Jro Mangku Tirta, seorang pengayah penyumbu Ratu Ayu Shakti Desa Pakraman Ipah kepada www.suluhbali.co, Jumat (5/2/2016).

Ini merupakan salah satu tradisi yang telah berlangsung sejak jaman dahulu dan tetap berlangsung sampai sekarang meskipun pernah ditiadakan dan kembali diadakan sejak tahun 2004.

“Kalau sejarahnya menurut penuturan penglingsir terdahulu ini sudah ada sejak dahulu, namun sempat ditiadakan dan kembali lagi diadakan pasca Ida Bhatara Gede pernah kepandung oleh orang durjana sekitar akhir tahun 2003,” terangnya.

Prosesi ritual mengelilingi desa (nyatur desa) (foto ist).
Prosesi ritual mengelilingi desa (nyatur desa) (foto ist).

Tujuan dari tradisi mecangcang menurut Jro Mangku Tirta adalah simbol yoganya Bhatara Siwa dan Dewi Durga untuk keselamatan desa maupun dunia. Ritual ini juga merupakan usaha untuk mendekatkan diri sebagai rasa bhakti krama desa untuk memohon keselamatan desa maupun keselamatan dunia.

“Ida Bhatara mecangcang adalah simbol bahwa beliau sedang beryoga di tengahing desa dalam mewujudkan keselamatan desa maupun dunia. Selain itu tradisi ini merupakan wujud rasa bakti dalam mendekatkan diri kepada sesuhunan, Ida dilinggihkan di jaba artinya bahwa Ida itu dekat dengan krama desa. Kami sangat meyakini sesuhunan kami adalah kekuatan pelindung karena sudah banyak orang membuktikan,” terang Jro Mangku yang masih muda ini.

Adapun ritual ini dimulai dari persembahyangan bersama seluruh krama desa yang dipusatkan di pura Dalem. Setelah dilakukan persembahyangan kemudian dilanjutkan dengan prelingga ditarikan mengelilingi desa (nyatur desa).

“Prosesi ini dimulai dari Ida Bhatara diiring dari pelinggih Pesimpenan ke pura Dalem Desa. Di pura Dalem Ida dihaturkan upakara dan dilanjutkan persembahyangan bersama, setelah itu baru Ida mesolah di penjuru desa atau nyatur desa,” ungkapnya.

Sementara nyatur desa sendiri merupakan sebuah ritual dimana tujuannya adalah memohon keselamatan untuk desa maupun keselamatan jagat pada umumnya.

“Nyatur desa yang dilaksanakan di desa kami menggunakan persembahan berupa segehan agung lengkap dengan penyamblehannya berupa ayam, tujuannya sendiri adalah memohon kehadapan Ida Bhatari Durga agar beliau menyupat energi-energi negatif kembali menjadi kebaikan yang mampu melindungi desa maupun dunia sebagai kekuatan keseimbangan,” kata Jero Mangku yang merupakan pengayah penyumbu Ratu Ayu Shakti sejak usia 23 tahun ini.

Setelah selesai ritual nyatur desa kemudian semua prelingga distanakan di pelingih jaba. Setiap hari dihaturkan upakara perayunan dan banten yasa pagi dan siangnya selama 42 hari. Kemudian setiap lima hari saat panca wara kliwon dilaksanakan persembahyangan bersama. (SB-Skb)

Comments

comments