Kegiatan pada saat ada upacara adat. (foto-rk)

SULUH BALI, Denpasar – Pernahkah mendengar istilah nyame sate ?  Saya juga sebelumnya tidak pernah mendengar istilah tersebut. Istilah yang terdengar asing memang. Namun begitu ada tetangga atau salah satu warga banjar yang akan mengadakan upacara adat, barulah ada orang tua yang menyebutkan istilah tersebut.

Nyama sate menurut orang tua tersebut adalah nyama atau keluarga yang datang bertemu dan berkumpul hanya pada saat ada upacara adat. Semisal upacar potong gigi atau metatah atau mesangih. Upacara pernikahan, upacara ngaben, upacara melaspas dan lainnya.

Itupun, mereka datang dan berkumpul setelah diberitahukan atau diundang. Kalau tidak diundang mereka tentu tidak datang. “Yen sing ada undangan, sing juari teka. Wireh nak megae meayu-ayu.” Begitu alasan mereka sebagai patokan dan etika. “Lek ati teka yen sing ada ngorahin. Nyen kadene ngelap ngalih sate, makan-makan dogen.”

Berbeda dengan nyama atau keluarga yang tergolong bukan nyama sate. Mereka lebih sering kumpul, bertemu baik dalam acara suka maupun duka. Misal saat ada odalan, upacara adat, gotong-royong, metulungan ataupun sekedar datang untuk ngobrol.

Kalau ditelusuri, sebetulnya yang digolongkan sebagai nyama sate ini masih ada hubungan keluarga. Namun biasanya domisilinya yang jauh. Atau komunikasinya sangat jarang. Nah saat akan diadakan upacara adat dalam sebuah keluarga, saat persiapan itu tentu akan ada rembuk sekaligus untuk mengingat-ingat siapa, dan keluarga mana yang mesti atau sepatutnya diberitahu atau diundang.

“Mekire ngelah gae, ingetang nyen mase ngorahin iraga ngelah nyama. De kanti engsap.” Begitu biasanya pesan para orang tua ketika parum persiapan menjelang upacara adat. “Pang sing kanti pegat iraga menyama. Nah kangguang iraga nyidang kumpul dinuju ngelah gae kene.” Pesan yang membuat keluarga tersebut  akhirnya menginventarisir, mengingat-ingat kemudian mencatat dan menindaklanjutinya dengan mendatangi atau mengundang.

Kalau dulu orang mengundang dengan mendatangi langsung, lengkap dengan busana adat. Namun kini, karena kemajuan teknologi komunikasi, sudah sering kegiatan mengundang tersebut dilakukan dengan komunikasi lewat handphone. Meskipun masih ada embel-embel : “Ampura niki tiyang ngundang lewat handphone.”

Nyama sate ini, disamping memang karena keberadaannya atau tinggal berjauhan. Bisa juga mereka yang disebut nyama sate ini masih ada hubungan keluarga tetapi tergolong keluarga jauh. Itulah yang menyebabkan mereka datang atau berkumpul hanya pada saat ada upacara adat saja. Tidak seperti keluarga yang sering datang atau berkumpul meskipun tidak ada upacara adat. (SB-Rk)

Comments

comments