Ngusung “Bade” Di laut Selalu Jadi Atraksi Budaya di Nusa Penida

58
SULUH BALI, Nusa Penida – Ngarak bade adalah bagian prosesi upacara ngaben, hal yang umum dilakukan di Bali. Nusa Penida tepatnya di Desa Pakraman Batumulapan, Desa Batununggul setiap ngaben masal berbeda dari biasanya, bade diusung di laut. Sajian  budaya yang ditunggu warga, wisatawan serta fotografer seksama menyaksikan.
Pasang surut laut penentu jalanya upacara ngaben, sempat ditunda satu jam. Perkiraan awal ngusung bade tepat pkl. 01.00 wita, namun kondisi tidak memungkinkan, ” hal ini disampaikan ketua panitia I Wayan Geria, Rabu (26/6) kemarin.
Setiap ngusung bade, menurutnya suguhan budaya yang paling dinanti masyarakat sekitarnya dari sejak dulu. Sekarang, momen ini kami sengaja mengajak fotografer untuk datang mengabadikan momen budaya yang menarik. Lumayan menyita tenaga dan waktu yang lama pasalnya jarak menuju setra kurang lebih 500 m. Dentuman gamelan membangkitan pengusung menjadi histeris durasi waktu tiga jam.
” Partisipasi melibatkan masyarakat Batumulapan membantu ngusung bade, dua bade dan tiga petulangan yakni dua lembu dan gajahmina( gabungan ikan dengan gajah). Ngaben kali ini sawa yang ikut sebanyak 16 dari 118 KK banjar Jepun. Hasil rapat banjar menyepakati bahwa yang punya sawa saja yang dikenakan biaya sementara krama yang lainya sifatnya membantu baik perlengkapan upacara hingga pembakaran selesai,” ujarnya.
Ida Bagus Putra Adnyana Fotografer senior yang tergabung Perhimpunan Fotografer Bali ( PFB) mengatakan secara umum ngaben sekarang hampir mirip. Ini kemungkinan faktor mudahnya informasi, via TV atau Youtube. Sehingga antar daerah saling ingin mirip atau membuat yang lebih bagus. Kelebih dari Nusa Gede/ Penida adalah landscape sangat indah.
Karena tidak ada industri maupun polusi yang relatif tidak sepertidi kota besar, warna langit biru bersih. Dipadu dengan laut yang mebiru, secara fotografis ini akan memudahlan siapa saja memotret upacara ngaben di Nusa Penida. Fotografer yang sudah melalang buana pemeran di luar negeri berpendapat
pemotretan ngaben di Nuda Penida menjadi luar biasa dan sangat indah. Sudut pandang pemotretan ngaben, kita harus dapat mengcaptire spirit dari upacara itu.
” harus dapat menggambarkan sifat gotong royong spontan dan totalitas pengabdian untuk leluhur. Mengarak bade di tengah laut adalah tradisi yang luar biasa, banyak hal positif yang bisa dirasakan prosesi di laut ini. Kami sebagai fotografer, meski usia lebih dari setengah abad, tidak merasa kelelahan mengikuti prosesi ini. Baik karena keindahan alamnya, maupun semangat masyarakat yang penuh totalitas, ” sumringanya yang lebih dikenal Gustra.
Sementara Tjokorda Gde Romy Tanaya, Kepala Bidang Sumber Daya Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Klungkung yang kebetulan ikut rombongan PFB menyampaikan,  memasukkan tradisi ngarak bade ke kalender budaya yang merupakan kegiatan lima tahun digelar di Nusa Penida baik itu melalui media cetak maupun media on line. Dengan mengajak bendesa adat yang ada setiap berapa tahun ngaben dilaksanakan di desa setempat dan menjadikan ngarak bade untuk tradisi budaya yang menunjang kegiatan wisata di Nusa Penida.
Pihaknya akan berencana menjadikan tradisi ngarak bade dijadikan atraksi budaya untuk menunjang pariwisata  dengan kerjasama dengan travel agent yang ada bahwa kita di Nusa Penida mempunyai tradisi unik yaitu mengarak bade ke tengah laut.
” tradisi ini tetap dilestarikan karena sangat unik dan hanya ada si nusa penida mengarak bade ke tengah laut dan dapat menunjang kepariwisataan di Nusa Penida,” tutur pria penghobi fotography. (SB-sjd)

Comments

comments