I Gusti Ngurah Windia

SULUH BALI, Denpasar – Berbeda punya rasa dengan merasa. Karena dari rasa itu akan muncul bawa atau kewibawaan. Dari kewibawaan itu lahirlah teja atau sinar.

Demikian pesan dalam dialog yang disampaikan oleh seniman bondres senior I Gusti Ngurah Windia saat tampil bersama Sekaa Sanggar Seni Tugek Carang Sari, Jumat (6/7) lalu di pementasan Prembon, Pesta Kesenian Bali yang kebetulan juga mengambil tema Tejaning Dharmaning Kauripan, Api Spirit Penciptaan.

Bagaimana cara memunculkan dan mewujudkan teja atau sinar tersebut ? Menurutnya, caranya tiada lain adalah dengan terus meningkatkan ilmu pengetahuan, ketrampilan maupun pendidikan. Hal itulah yang membuat umat manusia akan memiliki teja atau sinar yang sekaligus menyinari hidup dan kehidupan diri dan sekitarnya.

Tentang rasa dan merasa, seniman sepuh yang kini memiliki 12 orang cucu ini dengan melantunkan tembang bahasa Bali :  “De merasa cukup, merasa bise. Merasa nawang care pasti. Merasa sakti tuurin kuat. Merasa bagus tuurin sugih. Merasa tan ade ngelangkungin. Merasa ring dewek pengaruh. To sanget ngawinan benyah…”

“Kalau seseorang sudah merasa, akan timbul kemabukan. Mabuk karena sudah merasa, merasa tahu, merasa diri sakti dan kuat, merasa diri kaya, merasa diri tidak aka nada mengalahkan dan seterusnya, maka akan timbul kehancuran,” pesannya.

Maka ketika usai pentas, ketika ngobrol di belakang panggung dirinya ditanya apa sesungguhnya taksu itu, dia ngaku sangat sulit untuk menjawabnya. “Tentang taksu, sesungguhnya tidak ada yang mampu untuk menjelaskannya. Apalagi saya. Saya tidak pernah merasa diri saya, pementasan saya metaksu, Itu penilaian penonton.  Penontonlah yang mengatakan kalau seni, pementasan itu metaksu misalnya,” jawabnya. (SB-Rk)

Comments

comments