Nama Topeng Tugek, Pemberian Masyarakat Tabanan

375

I Gusti Ngurah Windia saat menarikan topeng Tugek. |foto-raka|

 

SULUHBALI.CO, Tabanan – Pada era tahun 1970 dan 1980-an nama sekaa Topeng Tugek sangat terkenal di masyarakat. Karena dalam setiap penampilannya sarat dengan lelucon, disamping juga karena selalu mementaskan isi babad yang ada di Bali, berisi tutur maupun filsafat kehidupan. Unik dan menarik lagi dari Topeng Tugek ini adalah beberapa peran (tokoh) dibawakan oleh satu orang. Kepiawaian memerankan beberapa tokoh dalam pementasannya tersebut dibawakan dengan sangat menarik oleh I Gusti Ngurah Windia.

I Gusti Ngurah Windia. |foto-raka|
I Gusti Ngurah Windia. |foto-raka|

I Gusti Ngurah Windia menceritakan perjalanan panjang awal dirinya tampil sebagai penari. Ia sudah terjun menari dan pentas sejak tahun 1965. “Karena pada tahun 1965 itu situasi tidak bagus, baru mulai efektif tampil sejak tahun 1966,” katanya. Mengapa memakai nama Topeng Tugek? Ia pun menceritakan,  di era tahun 70 dan 80-an ia bersama sekaa-nya sering pentas di daerah Tabanan. Saya tidak tahu kita sering sekali disebut dengan sekaa Topeng Tugek. Memang saya ketika itu sering memerankan tokoh itu (dipanggil Tugek). Lalu saya baru sadar, saya kemudian ambil nama Tugek tersebut untuk nama sanggar saya, yang saya bentuk tahun 1974. Jadi nama Topeng Tugek tersebut sebenarnya diberikan oleh masyarakat sendiri, terutama masyarakat di Tabanan itu, ” ia menceritakan sambil mengenang sejarah nama Topeng Tugek.

Ia pun mengatakan banyak warga masyarakat menjadi tahu isi babad, maupun asal-usul sebuah keluarga setelah menonton penampilan Topeng Tugek yang memang senantiasa mementaskan babad yang ada di Bali.  “Banyak yang dulunya tidak tahu mengenai babad atau asal-usul sebuah keluarga, akhirnya jadi tahu,” ungkap I Gusti Ngurah Windia ditemui di belakang kalangan Angsoka, di Taman Budaya, Art Center (11/8/2014), usai pentas yang menampilkan cerita Babad Satria Kandel serangkaian mengisi acara Bali Mandara Mahalango.

Saat itu I Gusti Ngurah Windia yang masih terlihat bugar tampil bersama 4 orang penari lainnya, 2 diantaranya adalah putranya sendiri. Putri sulungnya Gusti Ayu Putri, serta yang bungsu Gusti Ngurah Artawan. “Dulu pada sekitar tahun 80-an itu, ketika itu saya masih duduk di kelas 1 SMP, Ajik hampir tidak pernah tinggal di rumah, kadang belum sempat buka pakaian sudah pergi lagi untuk menari,” ungkap Gusti Ayu Putri, putri sulungnya yang kini sebagai guru bahasa Bali di SMP PGRI 5 Denpasar menceritakan bagaimana padatnya permintaan pentas untuk Ajik-nya (Ayahnya), I Gusti Ngurah Windia. “Apalagi banyak juga permintaan untuk menari di temapat-tempat ada wali (upacara), sehari bisa lebih dari sekali Ajik menari,” papar Gusti Ayu Putri.

Saking tenar dan melekatnya nama Topeng Tugek di masyarakat Bali pada sekaa ini, nama tersebut lekat juga pada sosok seniman I Gusti Ngurah Windia. “Sering saya kalau jalan-jalan ke daerah Sembung, Badung misalnya,  di daerah utara itu, hampir setiap dagang yang saya singgahi, begitu mereka tahu diri saya yang dulu main di Topeng Tugek, tiba-tiba dengan spontan menyuguhkan minuman, mereka membebaskan saya mau minum berapa, dipersilahkan….gratis..haha..meraka kasi. Wah…..ternyata mereka masih ingat  kalau saya yang dulu pemain dalam Topeng Tugek itu,” katanya sambil tertawa lebar. (SB-Raka)

Comments

comments

Comments are closed.