Musim Tanam, Petani Kesulitan Traktor

150

Salah satu petani menggunakan traktor untuk mengolah sawah (foto-raka)

SULUHBALI.CO, Tabanan – Sekarang musim tanam padi di sawah hampir berbarengan. Seperti di Subak Penatih, Subak Ngis, Subak Kesiut, Subak Sambian, Kerambitan, Tabanan. Apalagi sekarang sudah musim hujan, menyebabkan ketersediaan air di subak-subak tersebut sudah mencukupi, warga subak pun berusaha lebih cepat menggarap lahan sawahnya, agar bisa segera menanam padi.

Hanya saja, luasnya sawah tidak sebanding dengan ketersediaan mesin traktor maupun tenaganya untuk mengolah tanah sawah-sawah yang luas itu. Kebutuhan mesin traktor untuk menggarap sawah pun meningkat dan hampir berbarengan. “Susah sekali dapat traktor. Dari kemarin sudah tanya-tanya sampai ke desa tetangga. Tetapi tidak dapat juga. Saya tanya ke pemilik maupun buruh traktornya, katanya semua sudah pada dapat pekerjaan,” keluh Pak Ketut Dana, salah seorang petani Senin (16/12). “Kalaupun dapat traktor, tapi pemiliknya dari jauh. Itupun dengan syarat traktor tersebut harus dapat mengerjakan sawah dengan luas tertentu. Kalau kurang, mereka tidak mau datang membawa traktor kesini. Ya terpaksa nunggu giliran meski lama,” tambahnya.

Karena problem tersebut, beberapa petani yang memiliki lahan sawah lebih luas, punya inisiatif membeli sendiri mesin traktor untuk menggarap sawah miliknya. Jadi kebanyakan mesin traktor hanya digunakan untuk menggarap lahan sawah si pemilik traktor. Hal tersebut menambah sulitnya petani yang lain untuk mencari jasa mesin traktor beserta tenaganya. Akibatnya terjadi keterlambatan menanam bibit/benih, padahal bibit padi sudah tumbuh makin tinggi. Mencari jasa dengan tenaga sapi, sudah sangat jarang ada. Kecuali tenaga kerbau masih ada beberapa, itupun hanya untuk jasa membajak di pinggir sawah (nenggala) sebelum digarap dengan traktor.

Petani seperti Pak Ketut Dana, sering gelisah. Kalau cepat membuat bibit/benih padi, keterlambatan dapat traktor akan bermasalah terhadap bibit yang ketuaan. “Jarang sekali begitu bibit sudah layak ditanam (ditandur), sawah sudah siap ditanami. Kadang bibit sudah ketuaan, baru dapat traktor,” keluhnya. Pak Nengah Edi, pemilik traktor yang sudah sejak lama bekerja melayani penggarapan sawah mengakui sudah kewalahan melayani permintaan untuk menggarap sawah dengan traktornya. “Saya tidak sanggup melayani permintaan, terpaksa banyak yang saya tolak,” katanya. (SB-Raka)

Comments

comments