Muncul Akta Perubahan Yayasan Keluarga Manuaba | Profesor IB Manuaba Merasa Dikudeta

2452
Prof.IB Manuaba (tengah) saat menemui notaris Hj Sri Subekti di kantornya (foto ist).

SULUH BALI, Denpasar – Penerbitan akta perubahan Yayasan Keluarga Manuaba bertanggal 3 Maret 2017 oleh Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, telah membuat pendiri RS Sakit Manuaba, Denpasar, Profesor.dr.Ida Bagus Gede Manuaba, SP.OG (k) merasa dikudeta oleh sejumlah anaknya yang berada dibalik perubahan akta tersebut.

Pada sejumlah wartawan di kediamanannya di Denpasar, Rabu (15/3/2017) Profesor Manuaba didampingi putra tertuanya DR.dr.Ida Bagus Gede Fajar Manuaba, SP.OG,MARS dan Ketua Umum Yayasan Keluarga Manuaba, Anak Agung Mas Kencanawati, S.PD, mengatakan dirinya langsung menemui notaris Ny.Hj.Sri Subekti,SH. yang membuat akta perubahan tersebut.

“Saya jelaskan pada Ibu Notaris, bahwa saya masih sehat, masih bisa berpikir dengan jernih dan tidak setuju komposisi pengurus organ yayasan yang berdiri tahun 2015 dirubah.”

Dijelaskan pula oleh Profesor Manuaba, tidak ada seorangpun dari 6 orang yang disebut sebagai pendiri yayasan yang mengeluarkan dana untuk membuat Yayasan Keluarga Manuaba kecuali dirinya, sebesar Rp 12.606.209.400, “Artinya kekayaan awal yayasan sepenuhnya dari saya pribadi dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan Rumah Sakit Umum Manuaba.”

Karena itu, seharusnya setiap ada upaya merubah akta yayasan, kata Profesor IB Manuaba yang mendirikan rumah sakit swasta pertama di Bali ini sejak tahun 1974, minta izin pada dirinya.

Surat terbuka untuk pengurus yayasan akta baru (foto ist).
Surat terbuka untuk pengurus yayasan akta baru (foto ist).

“Walau sempat terserang stroke tahun 2014, setelah istri saya meninggal. Saya masih tetap sehat dan bisa berpikir dengan jernih. Jadi apa susahnya, bicara dan bertemu saya, toh mereka bertiga juga adalah anak-anak kandung saya.”

Menurut Prof. IB Manuaba sangatlah aneh bila selaku anggota Dewan Pembina Yayasan yaitu Dr.IB Surya Putra Manuaba, SpTHT-KL, Mars, Dr.IA Ratih Wulansari Manuaba SpPD, K-R,Mkes dan Dr.IA Chandranita Manuaba, SpOg,MM mengadakan rapat yang tidak dia restui pada 29 September 2016, lalu mereka mengundang Dr.dr.IB Gede Fajar Manuaba, SpOg, Mars sebagai Ketua Dewan Pembina.

“Saya yang meminta dokter Fajar tidak hadir dalam pertemuan itu. Dan kata-kata saya diikutinya. Lalu dari keputusan mereka bertiga itu, nampaknya digunakan untuk merubah komposisi yayasan dengan akta perubahan ke notaris.”

Dimana posisi Ketua Pembina dari Dr.dr.IB Gede Fajar Manuaba, SpOg, Mars diganti Dr.IB Surya Putra Manuaba, SpTHT-KL, Mars dan Ketua Umum Pengurus dari Anak Agung Mas Kencanawati, S.PD diganti oleh Ida Bagus Udayana.

Karena itu, Profesor IB Manuaba dan tim kuasa hukumnya, berencana akan melakukan gugatan terhadap akta yang disebutnya sebagai sempalan tersebut, agar dibatalkan.

Profesor Manuaba juga menjelaskan dirinya berterima kasih pada para pengurus  dan pengawas Yayasan Keluarga Manuaba, antara lain Ketua Umum  Anak Agung Mas Kencanawati, S.PD, Sekretaris Umum Desak Gede Rai Suarsati, Bendahara Umum I Dewa Ketut Tayanegara dan Ketua Pengawas AA Gede Sayang Dwija yang telah memberi manfaat besar pada Rumah Sakit Umum Manuaba, sehingga memperoleh izin operasional rumah sakit 5 tahun, lulus akreditasi versi 2012 dan naik kelas ke rumah sakit ke kelas C, “Tanpa adanya mereka, tidak mungkin tujuan pendirian RSU Manuaba bersama istri saya DM Putri Manuaba, MS dari nol bisa tercapai. Yaitu melayani masyarakat di dalam bidang kesehatan.”

Surat terbuka Prof. IB Manuaba untuk putra putrinya (foto ist).
Surat terbuka Prof. IB Manuaba untuk putra putrinya (foto ist).

Rasa sakit hati Prof Manuaba atas kekisruhan yang melanda lembaga yang didirikannya, membuat Prof Manuaba menulis surat terbuka yang ditujukan pada putra putrinya dan pengurus yayasan yang disebutnya sebagai sempalan.

Bahkan karena terus memendam persoalan, maka dirinya tidak memperpanjang Surat Iji Praktek (SIP) dua putrinya dan menantunya IB Tatwayatindra di RSU Manuaba.

“Bagi saya RSU Manuaba harus terus eksis dan dikelola secara profesional sesuai tata kelola yang telah digariskan pemerintah. Karena itu saya ingin persoalan ini segera bisa diselesaikan dengan baik, sehingga RSU Manuaba bisa berfungsi dengan baik dan memberi manfaat bagi masyarakat luas, khususnya di Bali.”

(SB-wan).

 

Comments

comments