“Miss World” Bawa Nama Baik Bali

180

Gubernur Bali Mangku Pastika (tengah) diapit Jendral (Purn) Wiranto dan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar menjelang menonton pembukaan Miss World.

 

SULUHBALI.CO, Denpasar — Gubernur  Bali , Made Mangku Pastika, merasa bangga karena penyelenggaraan kontes Miss World 2013 di Bali bisa membawa nama baik Indonesia di kancah dunia internasional.

“Dengan diselenggarakan ‘Miss World’ ini akan mengantarkan Indonesia dan khususnya Bali ke kancah dunia internasional,” ujarnya di sela-sela pembukaan kontes “Miss World” 2013 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Minggu (8/9) malam.

Ia menilai kegiatan itu merupakan ajang untuk mempromosikan Indonesia dari segi pariwisata dan budayanya. Dengan demikian, pihaknya mengajak masyarakat untuk menyukseskan kegiatan itu. “Mari kita bersama-sama sukseskan ajang kegiatan dunia ini,” ujarnya.

Made Mangku Pastika menghadiri pembukaan ajang kontes kecantikan dunia atau Miss World tahun 2013 di kawasan wisata Nusa Dua Bali, Minggu (8/9) malam, berjalan sukses dan aman. Peserta yang terdiri dari 130 kontestan tampil dengan balutan busana andalan mereka masing-masing.  Ajang ini diliput oleh 168 negara dan diperkirakan ditonton oleh sekitar 2 milyar pemirsa.

Di Pulau Dewata, perempuan cantik dari hampir seluruh penjuru dunia itu akan dikarantina dan diperkenalkan berbagai budaya Indonesia seperti tari-tarian, pakaian tradisional, makanan, hingga mengunjungi sejumlah objek wisata.

Sementara itu dari kalangan DPRD Bali, Miss World mendapat dukungan penuh, setelah rencana finalnya di Jakarta mendapat penolakan dari organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam.

Ketua Komisi I DPRD Bali Made Arjaya di Denpasar, Senin, mengatakan pada prinsipnya elemen masyarakat Bali mendukung sepenuhnya jika kontes “Miss World” 2013 tersebut seterusnya dilaksanakan di Bali.

Ia mengatakan bila rencana sebelumnya malam puncak pemilihan “Miss World” dan serangkaian kegiataan lainnya di DKI Jakarta dan Sentul Bogor.

Namun disarankan oleh Kapolri Jenderal Timur Pradopo dan Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dengan berbagai pertimbangan lainnya agar kegiatan tersebut dilanjutkan di Bali saja.

“Pada prinsipnya kita mendukung penuh jika selanjutnya, kontes “Miss World” itu dilaksanakan di Bali karena sangat menguntungkan Bali sebagai daeran pariwisata. Daerah lain itu punya tambang, punya hutan atau kayu, sementara Bali hanya punya pariwisata. Bila dalam kontes “Miss World” itu di Bali terus dipromosikan maka ini akan menjadi keuntungan bagi Pulau Dewata,” ujarnya.

Terkait dengan adanya sejumlah ormas Islam yang menolak kontes “Miss World” itu, Arjaya menegaskan agar Bali jangan diganggu.

“Tolong Bali jangan diganggu. Semua sudah berjalan sesuai etika dan moral yang berlaku di Indonesia. Bikini juga sudah tidak ada lagi. Mereka malah mengenakan busana Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia. Apa yang dilanggar lagi. Jadi tolonglah jangan ganggu Bali,” katanya.

Ia mengakui jika ada masyarakat Indonesia atau sejumlah ormas tertentu yang ingin agar “Miss World” dilarang di Indonesia. Maka perlu disadari era demokrasi dan keterbukaan seperti ini, perbedaan-perbedaan tersebut memang seringkali terjadi. Namun jangan sampai perbedaan tersebut menjadi halangan atau bahkan bisa mengganggu Bali.

Arjaya mengatakan pihaknya mendukung penuh jika seluruh aktivitas, baik penyisihan maupun puncak kontes “Miss World” tahun 2013 dilakukan di Bali.

Ia juga mengapresiasi dan mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak keamanan, baik Polri maupun TNI yang sudah mengawal dan menjaga kondusifitas Bali menjelang dan selama kontes ratu segata tersebut.

Menurut politikus PDIP itu, pihaknya yakin jika seluruh kontes tersebut dilakukan di Bali maka pihak keamanan bisa melakukan berbagai antisipasi bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sebelumnya, Menkokesra Agung Laksono pada Sabtu (7/9) memutuskan agar kontes “Miss World” seterusnya dilakukan di Bali. Keputusan tersebut didukung penuh oleh Kapolri Jenderal Timur Pradopo dan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar.  (SB-hum)

 

Comments

comments

Comments are closed.