Minggu Ini: Workshop Fotografi Bundhowi di BBB

129

Foto karya fotografer Nick Ut yang akan jadi bahan diskusi.

SULUHBALI.CO, Gianyar-– Bentara Budaya Bali (BBB), sebuah lembaga kebudayaan nirlaba Kompas-Gramedia akan menggelar workshop fotografi bertajuk “Kisah Tokoh: Sebuah Zoom Kamera” di Ketewel, Kabupaten Gianyar, pada Minggu (20/4).

“Kegiatan itu menampilkan pembicara M. Bundhowi, seorang fotografer yang karya-karyanya dimuat di berbagai media Jakarta, majalah internasional Australia, serta di berbagai buku-buku dan penerbitan lainnya di Indonesia dan mancanegara,” kata Juwitta, staf BBB yang merancang kegiatan tersebut di Denpasar, Rabu (16/4).

Ia mengatakan perkembangan dunia fotografi kini sangat pesat, terlihat dari banyaknya generasi muda yang sudah bisa menggunakan kamera DSLR dan berjamurnya usaha-usaha yang menjual jasa fotografi.

Fenomena selfie rupanya juga menjadi indikator bahwa dunia fotografi sedang mengalami perkembangan yang pesat.

“Namun sesungguhnya dunia fotografi juga tidak hanya sekadar bagaimana teknik mengambil gambar, tetapi juga bagaimana tentang menciptakan gambar lebih dari sekadar keindahan,” ujar Juwitta.

Bundhowi dalam sesi diskusi akan memperbincangkan dua pokok bahasan penting yakni mengenai fotografi yang mengguncang dunia, di mana sebuah foto dapat menjadi bahan pertimbangan dalam membuat keputusan negara.

Selain itu mengenai fotografi dalam seni dan sastra, yakni bagaimana fotografi bisa memacu perkembangan seni rupa, sastra, bahkan bidang keilmuan yang lain.

Tidak ketinggalan, Bundhowi juga akan menunjukkan contoh-contoh foto yang fenomenal serta mempengaruhi umat manusia agar lebih menghayati kemanusiaan, sekaligus menunjukkan komitmen para fotografer dalam memenuhi panggilan idealisme, tidak hirau akan hujanan peluru atau ledakan mesiu.

Seperti misalnya dalam foto-foto karya Robert Capa yang mengabadikan momen perang Indochina dan Nick Ut yang mengabadikan seorang bocah perempuan Vietnam telanjang akibat terkena korban bom napalm, lari dari kepulan asap kimia yang seakan memburunya.

Selain itu juga menunjukkan foto-foto karya Henri Cartier Bresson yang menciptakan satu konsep fotografi Decisive Moment: rangkaian foto yang mengabadikan detik terakhir Belanda kehilangan kekuasaan di Indonesia.

Demikian pula foto-foto khusus dari Soekarno selaku proklamator pada masa itu, serta foto-foto kelas dunia penuh pesan kemanusiaan dari Sebastiao Salgado dan Kevin Charter.

Acara yang terbuka untuk umum secara cuma-cuma itu juga diisi dengan penayangan film dokumenter yang memperlihatkan satu sisi bagaimana foto-foto itu dihasilkan oleh sang fotografernya.

Selain itu pembacaan puisi karya Rob Kerr yang mendapat inspirasi dari fotografi perang.

Para peserta diajak untuk melihat sisi lain dari dunia fotografi untuk memahami secara permukaan, namun konteksnya lebih dalam, ujar Juwitta. (SB-ant)

Comments

comments