Merasa Beruntung Temukan Guru yang Tepat

111

Luh Putu Yuli Suantri. |foto-raka|

 

SULUHBALI.CO, Denpasar – Kalau biasanya seorang penari, saat menari hanya menari diatas panggung atau pertunjukkan. Sedangkan berbeda halnya kalau seorang penari saat membawakan tari Palawakya, seorang penari dituntut juga memiliki kemampuan menabuh dan olah vokal (matembang).

“Saya banyak belajar dari para penari-penari yang sudah senior. Begitu pula untuk olah vokal dan menabuh, disamping kebetulan saya sempat menimba ilmu di ISI Denpasar,” ungkap Luh Putu Yuli Suantri, jebolan ISI Denpasar tahun 2012 ini.  Yuli, begitu panggilannya, selain menimba ilmu tari secara formal, ia juga seorang penari yang mengaku sangat beruntung dapat belajar langsung dari para penari-penari senior di Singaraja.

Penari asal Seririt, Singaraja ini beruntung dapat belajar kepada penari senior Bu Luh Meneh. Penari yang dipercaya oleh pencipta Tari Palawakya, Almarhum Pan Wandres,  untuk pertama kali menarikan tari ciptaannya tersebut. Sekaligus meneruskan mengajarkannya kepada generasi berikutnya, termasuk Luh Putu Yuli.

Berkat kemampuan menari dan Tari Palawakya ini pula, Yuli berkesempatan menari di Hongkong dan keliling ke beberapa daerah di Indonesia. “Sekarang masih aktif menari, cuma sekarang agak berkurang karena saya habis melahirkan,” ungkap penari yang menikah ke Gianyar ini, usai menari di Art Center, mengisi kegiatan pagelaran tari dan tabuh kekebyaran klasik, Bali Mandara Mahalango, Jumat pagi (8/8). (SB-Raka).

Comments

comments