Merapi Kini Berkembang Jadi Wisata Alam yang Menantang

146

Bunker di lereng Merapi. |foto-rka|

 

SULUH BALI, Yogyakarta – Beberapa tahun yang lalu, gunung Merapi menebar bencana dan musibah bagi warga sekitarnya. Sangat mengerikan dan menyedihkan. Begitu kesan yang masih membekas dalam ingatan warga yang selamat. Wisnu (26), salah seorang warga Kaliurang menuturkan kejadian yang memilukan yang menimpa ribuan warga dan desa-desa disana akibat muntahan lahar gunung Merapi beberapa tahun silam itu.

Namun kini Wisnu pula dan beberapa warga disekitar Merapi yang menyaksikan dan menikmati geliat wisata alam disana yang tergabung dalam komunitas Jeep Wisata Tlogosari. Mereka bahu-membahu melayani wisatawan yang datang untuk menyusuri jalan menuju gunung Merapi. Komunitas Jeep ini kumpul di sebuah areal parkir Cangkringan. “Kita disini ada 57 buah Jeep yang melayani rute ke lereng gunung Merapi,” ungkapnya dengan ramah sambil mengemudiakan Jeep warna hitam miliknya, yang dulu ia beli dengan harga Rp 35 juta.  .

Jeep dan Trail wisata di gunung merapi. |foto-rka|
Jeep dan Trail wisata di gunung merapi. |foto-rka|

Jasa sekali angkut untuk menikmati wisata alam ke lereng gunung Merapi ini dikenakan biaya Rp 350 ribu, 1 Jeep dengan jumlah penumpang maksimal 4 orang. “Saya mencari penghidupan dengan Jeep ini saja mas. Tidak ada pekerjaan lain,” katanya sambil menuturkan, usaha jasa angkutan wisata dengan Jeep ini dimulai sejak tahun 2011, setahun setelah terjadinya erupsi gunung Merapi tahun 2010. “Kita disini dalam kelompok bergantian menghantarkan tamu, tidak setiap hari. Saya rata-rata dapat 5 hari dalam seminggu,” katanya

Dalam perjalanan dengan Jeep itulah kita akan menyaksikan bekas-bekas bencana erupsi Merapi. Wisnu pun menunjukkan desa-desa, rumah maupun bangunan yang kini menjadi rata, hanya tinggal kerangka dan gundukan bercampur debu. “Dulu jalan menuju Merapi bagus mas. Banyak bus-bus yang bisa naik, orang-orang yang kemah, mendaki juga banyak melawati jalan ini. Tapi setelah erupsi, jalan jadi hancur,” cerita Wisnu.

Jalan yang rusak, berbatu dan berkelok-kelok itulah yang justru menjadi daya tarik, sebagai sebuah pengalaman yang menantang dan sensasi tersendiri bagi wisatawan. Cerita keganasan erupsi Merapi, bekas-bekasnya, dan rute yang menantang ini semakin membuat penasaran, apalagi bagi mereka yang menyukai wisata alam. Terbukti dengan banyaknya rombongan yang memanfaatkan jasa Jeep disana.

Kali Gendol dilereng merapi. |foto-rka|
Kali Gendol dilereng merapi. |foto-rka|

Sebelum mencapai lereng Merapi, kita diajak berhenti di 3 titik. Pertama di Mini Museum, yang memajang bekas bangunan yang luluh lantak oleh erupsi Merapi, lengkap dengan pajangan foto-foto dan benda-benda dulu meleleh oleh panasnya erupsi. Titik ke-2 adalah Batu Gajah, ada sebuah batu besar masih kokoh ditempatnya yang menyerupai gajah. Dari tempat inilah bisa melihat dengan jelas hamparan luas Kali Gendol, lokasi mengalirnya Wedus Gembel saat erupsi dulu.

Terakhir barulah kita akan sampai pada titik perhentian ke-3. Yakni lereng gunung Merapi, tempat dimana ada sebuah bangunan bunker. Konon dulunya sebagai tempat perlindungan apabila gunung Merapi mulai menunjukkan gejala akan meletus. “Tapi saking panasnya erupsi, warga yang berlindung disana nggak bisa selamat,” ungkap Wisnu sambil menunjukkan lokasi yang dulu ditempati oleh Mbah Marijan agak jauh dari bunker, yang kini rata dengan tanah.  “Disini pagi hari suasana dan pemandangannya bagus banget mas, sebab kalau siang atau sore, seringan berawan,” tambahnya. (SB-Rka)

Comments

comments