Menyama Braya di Bali, Seperti Bungan Sandat “Selayu-layune Miik”

275

SULUH BALI, Denpasar – Lagu bungan sandat yang diciptakan Anak Agung Cakra Made Cakra menurut Prof. Wayan P. Windia,SH, M.Si adalah cerminan untuk menyama braya. Lagu ini menurutnya telah mengangkat istilah menyama braya semakin dikenal oleh masyarakat Bali.

“Istilah nyama braya seperti naik pangkat sesudah dijadikan lagu oleh Anak Agung Made Cakra,” kata Prof. P. Windia pada Seminar Seri Sastra Budaya, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Udayana (Unud) bertema “Memahami pengertian Menyama braya persfektif Hukum Adat Bali” di Aula Fakultas Sastra dan Budaya Unud, Selasa (21/2/2017).

Lagu bungan sandat menurut Prof. P Windia memiliki makna yang mendalam. Lirik-liriknya mengajarkan tentang pentingnya menjaga menyama braya dalam kehidupan bermasyarakat.

“Diingatkan supaya seperti bungan sandat, bungan sandat sampai layu tetep miik,” jelasnya.

Nyama dan beraya menurutnya sebuah pernyataan tentang hubungan. Nyama  mengacu kepada hubungan darah dari garis kapurusa (ayah). Beraya hubungan perkawanan dan pernikahan tapi tidak ada hubungan pasidikaran.

Nyama ada tingkatan keatas kesamping bermerk, sementara braya tingkatan lebih kebersamaan dengan pihak lain. Keduanya ini berbeda karena nyama lebih pada hubungan keluarga atau darah sementara braya lebih pada hubungan kesamping tanpa diikat oleh hubungan darah.

Istilah menyama braya dalam lagu bungan sandat yakni kata menyama beraya to kukuhin rahayu kepanggih menurutnya sebagai perkokoh hubungan dengan keluarga dan masyarakat pada umumnya untuk mencapai keharmonisan dan kedamaian. (SB-Skb)

Comments

comments