SULUH BALI, Denpasar – Dalam pandangan masyarakat Bali dewasa ini, semua  yang berwajah seram, memiliki taring panjang berambut panjang, keluar api dan selalu berdampingan dengan barong pada pertunjukan calonarang danpenyalonarangan adalah rangda.

Namun kemudian timbul pertanyaan siapa sebenarnya rangda? Siapa yang disebut rangda?, dan bagaimana asal-usul dan makna arti kata rangda?.

Dilihat dari kata, rangda atau randa berasal dari bahasa Jawa Kuna yang berarti Janda. Tokoh yang disebut rangda  seperti termuat dalam Lontar Calonarang merupakan sebuah julukan yang ditujukan kepada seorang  janda yang berasal dari Dirah “Rangda Ing Dirah”  bernama Ni Calonarang.

Di Bali cerita rakyat Randa Ing Dirah yang dikenal dalam mitologi calonarang kemudian berkembang menjadi pertunjukan lakon Calonarang, dimana yang menurut Gusti Ngurah Arta pertunjukan ini dimulai pada tahun 1800an oleh Anak Agung Gede Mregeg di Klungkung.

Dalam pertunjukan calonarang, rangda diwujudkan sebagai  reratuning pengiwa (ratu leak) yang selalu menebarkan berbagai macam penyakit. Penokohan rangda identik dengan ilmu hitam atau ilmu sihir yang mampu merubah wujudnya menjadi leak tingkat atas.

Sementara saat ditelusuri lebih jauh terkait penamaan rangda di Bali, Ketut Kodi menyebutkan pada sebuah diskusi di Gianyar bahwa tidak semua pertunjukan bernama rangda atau calonarang, namun ketika yang diperankan bukan tokoh Walunateng Dirah maka perwujudnya itu bukan bernama rangda dan nama pertunjukannya adalah penyalonarangan.

Nama rangda hanya melekat pada tokoh janda pengiwa berasal dari Dirah hanya ada pada pertunjukan dengan lakon calonarang. Namun, pada pertunjukan penyalonarangan,  perwujudan pengleakan tingkat tingginya itu ditentukan sesuai dengan nama tokohnya. (SB-Skb)

Comments

comments