Menganiaya Bayi, Ibu Ini Berusaha Peras Suami Bulenya

291
Mariana tersangka penganiaya bayinya sendiri (foto rio).

SULUH BALI, DENPASAR – Ternyata penganiayaan pada Baby J (8 bulan) oleh ibu kandungnya bernama Mariana Dunga, untuk memeras ayah biologis Baby J. Menurut polisi antara Mariana dan Otmar Daniel Adelsberger asal Austria, tidak terikat hubungan pernikahan sah.

Dalam interogasi terhadap Mariana di Polda Bali, diketahui bahwa pelaku dan ayah korban tidak ada ikatan perkawinan. Bahkan, antara pelaku dan ayah korban hanya bertemu dalam waktu singkat karena ayah biologis korban itu ke Bali hanya untuk berlibur.

“Ini sudah risiko seeorang ibu untuk bertanggungjawab terhadap anaknya, karena memang hubungan tersebut adalah hubungan di luar nikah,” ujarnya. Pelaku akan dikenakan pasal 44 ayat 1 UU RI No 23 tahun 2004, tentang KDRT dengan ancaman hukuman penjara 5 tahun, dan pasal 76 huruf C, juncto pasal 80 ayat 1 dan 4 UU RI No 35 tentang perubahan UU NO 23 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 3,6 tahun, jelas Direktur Reskrimum Polda Bali Kombel Pol Sang Made Mahendra Jaya.

Sementara itu, dari hasil interogasi, pelaku sengaja menganiaya bayinya. Aksi penganiayaan tersebut kemudian direkam. Hasil rekaman tersebut dikirim ke ayah biologis Baby J dengan tujuan untuk mendapatkan sejumlah uang. “Jadi tujuannya penganiayaan terhadap anak kandungnya sendiri itu untuk dikirim ke ayah biologisnya agar bisa mendapatkan sejumlah uang dan barang lainnya,” ujarnya.

Dalam kasus ini, kata dia, polisi harus hadir dalam kapasitasnya sebagai negara yang melakukan penegakan hukum untuk melindungi hak asasi seorang bayi. Seorang bayi berhak mendapatkan kehidupan layak, termasuk dari ibu kandungnya sendiri dan bukannya menjadikan bayi sebagai alat untuk melakukan pemerasan terhadap orang lain sekalipun itu ayah kandungnya sendiri.

Karena itu pihak Polda Bali secara tegas membantah jika kondisi kejiwaan Mariana Dangu (30) kelainan jiwa atau bipolar disorder, “Penyidik sama sekali tidak melihat kalau pelaku menderita kelainan psikologi atau gangguan kejiwaan lainnya, karena semua pertanyaan dijawab dengan sangat baik,” ujarnya saat memberikan keterangan kepada wartawan pada, Senin (31/7).

Kombel Mahendra menjelaskan, dalam pemeriksaan terhadap pelaku, penyidik sama sekali tidak melihat adanya kelainan kejiwaan yang diderita pelaku. Seluruh pertanyaan penyidik dijawab dengan baik dan benar, sekalipun demikian, penyidik akan melakukan test kejiwaan terhadap pelaku dan bagaimanapun hasilnya, pelaku tetap akan ditahan untuk penyidikan lebih lanjut.

Tersangka sudah diamankan pada tanggal 28 Juli lalu. Peristiwanya itu terjadi sekitar Maret 2017 di Jalan Drupadi Seminyak ini baru diketahui polisi setelah viral di Medsos. Polisi melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi Bali dan P2TP2A Bali yang sempat menggelar rapat dan memutuskan agar menyerahkan hak asuh kepada orangtuanya, tetapi ditolak karena kondisi ibunya.

Polisi juga telah melakukan profiling terhadap tempat tinggal pelaku yang tinggal di Jalan Drupadi Seminyak Kuta. Di lokasi tersebut pelaku melakukan penganiayaan terhadap anak kandungnya sendiri pada Maret 2017 lalu. Penyidik juga sudah bertanya kepada pemilik kos tentang kehidupan pelaku selama berada bersama suaminya dan juga sejumlah harta benda yang pernah dikasih suaminya.

Polisi ingin mengecek TKP sesuai dengan rekaman video yang sempat viral tentang kekerasan terhadap bayi tersebut. Dari hasil olah TKP tersebut, polisi menyita beberapa barang bukti berupa ember, gayuh, baju yang digunakan oleh korban dan pelaku, bantal guling bayi yang digunakan untuk memukul, copy surat-surat terkait hasil konseling dan rekam medis pemeriksaan kejiwaan tersangka. Ada 5 saksi yang sudah diperiksa dan kemungkinan akan tambah lagi saksinya. “Barang bukti, saksi pelapor, pelaku sudah diperiksa semuanya,” ujarnya. (SB-Rio)

 

 

Comments

comments