Artikel | Meneropong Perkembangan Ekonomi Indonesia Kedepan

572

Salah satu ruas bisnis di Kuta, sebagai penggerak ekonomi Bali (foto raka)

Oleh : L.Tantri Kristiani Rahmatianing

 

SULUHBALI.CO

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional, Pertumbuhan Ekonomi Nasional (PDB) pada 2013 sebesar 5,78% atau menurun dibanding 2012 yang mencapai sebesar 6,23%. Hal ini lebih rendah dibanding asumsi APBNP 2013 sebesar 6,3%. Dengan tingkat pertumbuhan tersebut, besaran PDB Indonesia atas dasar harga berlaku pada 3013 mencapai Rp 9.084,0 triliun dan atas dasar harga konstan (tahun 2000) sebesar Rp 2.770,3 triliun. Sedangkan PDB per kapita atas dasar harga berlaku pada 2013 mencapai Rp 36,5 juta/kapita atau meningkat dibandingkan 2012 yang mencapai Rp 33,5 juta/kapita.

Mengacu pada data di atas dapat digambarkan bahwa salah satu penyebab melemahnya pertumbuhan PDB 2013 adalah pelemahan pertumbuhan sektor Industri Indonesia yang selama ini sebagai penyumbang terbesar terhadap pembentukan PDB. Hal ini dapat dilihat dari data 2013, pertumbuhan sektor industri pengolahan hanya mencapai 5,73% atau melemah dibanding 2012 yang mencapai 6,4%. Bahkan jika dibandingkan dengan target pertumbuhan Kementerian Perindustrian pada awal 2013 sebesar 7,14%, maka realisasi pertumbuhan industri 2013 jauh lebih rendah.

Pelemahan sektor Industri pada 2013 ini kiranya dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti Pertama, kondisi perdagangan dunia yang belum pulih menyebabkan volume ekspor sektor industri menurun dari US$ 116, 12 milyar pada 2012 menjadi US$ 113 milyar pada 2013. Kedua, meningkatnya tekanan terhadap sektor industri akibat pelemahan kurs rupiah yang berdampak terhadap kenaikan harga bahan baku dan barang modal impor, Ketiga, dampak kebijakan kenaikan suku bunga Bank Indonesia yang disengaja memperlambat pertumbuhan guna mengendalikan inflasi yang tinggi, Keempat, lambatnya realisasi rencana investasi di sektor Industri akibat masalah birokrasi dan perizinan. Kelima, keterbatasan pasokan energi ke sektor industri, kenaikan harga gas dan tarif dasar listrik. Keenam, maraknya aksi-aksi unjuk rasa buruh baik untuk menuntut perbaikan kesejahteraan termasuk tuntutan kenaikan Upah Minimum Propinsi dan Kabupaten/Kota serta hambatan logistik akibat dampak dari kondisi cuaca yang buruk.

 

Ancaman “deindustrialisasi”

Mencermati kondisi Industri pengolahan dalam beberapa tahun terakhir, para pengamat ekonomi menilai bahwa sektor industri nasional sedang mengalami gejala “deindustrialisasi” dan ancaman “deindustrialisasi” tersebut semakin nyata pada 2013. Hal ini ditandai dengan semakin menurunnya peran industri terhadap perekonomian Indonesia secara umum.

Berdasarkan data BPS, indikasi gejala “deindustrialisasi” antara lain terlihat dari semakin melemahnya pertumbuhan sektor Industri pengolahan dari 6,2% pada 2011 menjadi 5,73% pada 2012 dan semakin melemah ke posisi 5,56% pada 2013. Selain itu, kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDB cenderung menurun dari 29,2% pada 2002 menjadi 26,4% pada 2009, menjadi 24,8% pada 2010, menjadi 24,3% pada 2011, menurun lagi menjadi 23,97% pada 2012 dan tahun 2013 kontribusi industri pengolahan terhadap PDB kembali menurun menjadi 23,69%.

Gejala lain dari “deindustrialisasi” juga terlihat dengan semakin meningkatnya “defisit neraca perdagangan lndustri’ yang diperlihatkan pada 2010 bahwa total ekspor sektor industri pengolahan mencapai US$ 98,02 milyar sedangkan impor bahan baku dan penolong mencapai US$ 98,76 milyar, sehingga defisit Neraca perdagangan industri sebesar US$ 740 juta, kemudian defisit meningkat lagi menjadi US$ 8,65 milyar pada 2011, sedangkan pada 2012 meningkat menjadi US$ 24 milyar dan tahun 2013 defisit Neraca Industri meningkat lagi menjadi US$ 28,98 milyar.

 

Tidak Sehat

Menanggapi pelemahan sektor Industri pengolahan tersebut, Direktur eksekutif Indonesian for Development of Economic and Finance, Eny Sri Hartati mengungkapkan bahwa melemahnya kontribusi sektor industri terhadap PDB dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia tidak sehat dan sektor industri belum matang. Menurutnya, di negara maju pergeseran ekonomi ke sektor jasa akan terjadi ketika kontribusi sektor Industri terhadap PDB telah melampui 30%. Sementara di Indonesia sektor jasa yang padat modal telah muncul sebagai penopang industri yang kontribusinya terhadap PDB masih rendah. Hal ini berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja.

Ketua Umum, APINDO, Sofyan Wanandi, mengungkapkan bahwa pemerintah diharapkan berusaha keras untuk mempertahankan kinerja produksi didalam negeri dan mengurangi impor bahan baku dengan mempercepat penghiliran industri agar defisit transaksi berjalan bisa dikurangi. Akan tetapi, menurut harapan tersebut tampaknya sulit terwujud mengingat pemerintah sudah sibuk menghadapi Pemilu. Sedangkan Ekonom HSBC ASEAN, Su Sian Lirn mengatakan hingga Januari 2014 peningkatan sektor manufaktur lebih banyak didominasi permintaan dalam negeri, sementara permintaan ekspor masih lesu. Produsen juga menerapkan harga jual ke konsumen lebih tinggi karena kenaikan biaya produksi dan BI harus waspada melihat perkembangan ini.

 

Salah Besar

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Mahendra Siregar mengatakan, adanya anggapan atau analis yang mengatakan bahwa industri Indonesia saat ini sedang mengalami “era deindustrialisasi” adalah salah besar. Sebab hasil analisis menunjukan bahwa perkembangan investasi pada sektor industri justru meningkat pesat. Mahendra menambahkan bahwa dalam kurun waktu 4 – 5 tahun terakhir, terdapat 12 (dua belas) sektor industri yang masuk klasifikasi investasi, dimana nilai investasi penanaman modal asing (PMA) terus mengalami penguatan disektor industri. Pada 2010, investasi PMA mencapai US$3,3 miliar dan pada 2013 nilai investasi PMA meningkat menjadi US$ 15,8 miliar atau naik hampir 5 kali lipat atau 55% dari total investasi di Indonesia. Selain itu, menurut Mahendra, sumbangan nilai investasi di sektor industri ini terhadap PDB Indonesia juga mengalami peningkatan, dari 22% pada 2000 menjadi 32% pada 2013. Bahkan berdasarkan data Japan Bank for International Cooperation (JBIC), sebanyak 30% investor Jepang menilai bahwa pasar Indonesia sangat menarik untuk tujuan investasi, dan 80% dari 500 responden investor Jepang tersebut menyatakan bahwa pada masa depan konsumsi dan pasar Indonesia akan lebih besar lagi.

Meskipun terjadi perbedaan pandangan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini. Kiranya pemerintah tetap perlu mencari strategi terbaik guna meningkatkan pertumbuhan sektor Industri. Dengan demikian, diharapkan pada tahun 2014 sektor industri kembali mengalami peningkatan, sehingga pembangunan di Indonesia dapat berjalan maksimal. Seiring dengan perkembangan tersebut, kiranya Pemerintah melalui kementrian terkait tetap fokus menyelesaikan program-program pembangunan ekonominnya, salah satunya terus memacu industri kreatif, mengoptimalkan pengembangan industri pengolahan bahan mentah menjadi bahan baku industri nasional, membangun klaster-klaster industri hilir, pengembangan industri kecil dan menengah, memperbaiki infrastruktur kelancaran arus bahan, mencari format pengupahan yang diterima semua pihak, dan lain-lain. Momentum Pemilu kiranya harus dipahami sebagai tonggak penguatan ekonomi Indonesia menuju lebih mandiri dan kokoh, untuk itu masyarakat harus mensukseskan Pemilu dengan menggunakan hak pilihnya untuk memilih pemimpin dan wakil-wakilnya yang dapat membawa perubahan bangsa menjadi lebih baik.

L.Tantri Kristiani Rahmatianing *penulis adalah alumnus Pascasarjana UI,  peneliti muda pada Forum Kajian Masyarakat untuk Ketahanan Bangsa.

 

Comments

comments