Memeras Dari Bali, Kelompok WNA China Hasilkan Triliunan Rupiah

268
WNA China di Polda Bali karena melakukan penipuan online (foto rio).

SULUH BALI, DENPASAR – Usai di periksa secara intensif di Polda Bali, tim gabungan Polda Bali dan Mabes Polri akhirnya membawa 27 WNA China ke Jakarta untuk diproses lebih lanjut. 27 WNA China ini diduga melakukan tindak pidana penipuan melalui online.

Rencananya, mereka diterbangkan ke Jakarta pada Senin (31/7) sekitar pukul 14. 30 dengan menggunakan maskapai penerbangan umum Garuda dengan pengamanan superketat dari satgas CTOC dan Sabhara Polda Bali. “Mereka (27 WNA China, red) akan berbaur dengan penumpang yang lain nanti di dalam pesawat. Kita akan menempatkan mereka di bagian belakang,” ujar Wadir Reskrimsus Polda Bali, AKBP Ruddy Setiawan saat memberikan keterangan kepada wartawan pada, Senin (31/7).

Dia menjelaskan 27 WNA yang ditangkap di Mumbul, Nusa Dua, Badung Bali pada 29 Juli lalu itu merupakan satu jaringan dengan WNA China yang ditangkap di Surabaya. Untuk yang di Bali, menurutnya sudah satu tahun lamanya mereka menetap. Dan rata rata semuanya memiliki pasport. Sementara untuk  omset yang mereka peroleh selama satu tahun totalnya 20 Triliun.

Saat digiring dari Polda Bali menuju Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, 27 WNA ini mengenakan kaus berwarna Pink. Dan mereka menggunakan 3 buah mobil tahanan Polda Bali. Mereka dikawal oleh satgas CTOC dan Personel Sahara Polda Bali.

Sebelum diberangkatkan, setiap WNA digeledah satu persatu. Hal ini untuk menghindari hal hal yang tidak dinginkan. Selain itu, petugas juga menginstruksikan agar tidak berulah saat dibawa ke bandara dan saat terbang ke Jakarta. Jika ada yang berulah atau berbuat onar maka petugas tidak segana segan untuk mengambil tindakan tegas.

Seperti yang diberitakan 27 WNA asal China dan Taiwan ini digerebek Tim Satgasus Mabes Polri bersama kepolisian China di tempat persembunyian mereka di sebuah rumah mewah di Benoa, Bali. Mereka diketahui meraup Rp 20 triliun per tahun dengan cara penipuan dan pemerasan.

“Informasinya, sudah satu tahun beroperasi di sini dan sebelumnya pernah di tempat lain di Denpasar. Ini penggerebekan serentak dengan Jakarta, Surabaya dan Batam,” kata Ketua Tim Satgasus Mabes Polri Kombes Pol Turnagogo Sihombing pada, Sabtu (29/7/2017) malam. Menurutnya, 17 WN China dan 10 WN Taiwan yang berada di dalam rumah meraup Rp 20 triliun per tahun dari hasil kejahatan penipuan dan pemerasan.

“Untuk di Bali itu mereka raup keuntungan Rp 20 triliun setahun, dengan gaji masing-masing Rp 20 juta per bulan per orang,” ujarnya.

Ada 4 WNI yang juga ikut diamankan terkait kejahatan internasional yang terorganisir ini. Mereka berperan sebagai fasilitator akomodasi, transportasi dan rumah tangga.

“Untuk WNI kita belum tahu digaji berapa, akan kita periksa mendalam dan kita bawa juga ke Jakarta bersama para WNA ini,” ucap Turnagogo.

Turnagogo menyatakan 27 WNA tersebut adalah bagian dari jaringan internasional penipuan dan pemerasan via telepon di China. Mereka diduga memilih beroperasi di Indonesia karena lebih aman dan mudah untuk menipu calon korban dan lari dari jeratan hukum.

“Ini jaringan internasional karena mereka juga beroperasi di Laos, Myanmar dan Thailand dengan sasaran korban di China serta Taiwan. Mereka menggunakan teknologi informasi untuk melancarkan kejahatan mereka,” ujarnya. (SB-Rio)   

Comments

comments