Membawa ‘Leak’ ke Afrika Selatan

345

I Gusti Putu Bawa Samar Gantang (foto-raka)

SULUHBALI.CO, Denpasar – Penonton yang berada di Bentara Budaya Bali, Jum’at (29/11/2013) terhenyak dan terpukau oleh pembacaan puisi modre “Leak Lanang, Leak Wadon, Leak Kedi” yang dibacakan pengarangnya sendiri I Gusti Putu Bawa Samar Gantang. Diiringi gambelan dan seorang perempuan sebagai penari latar dengan kostum hitam.

Terdengar seperti mantra, puisi panjang ini dibacakan dengan tempo cepat, kadang keluar suara desis, maupun lengkingan menyerupai calonarang. Penampilan tersebut mampu menghadirkan suasana magis dan mistis ke dalam panggung Bentara Budaya Bali malam itu. Nampak untuk membawakan puisi ini memerlukan nafas panjang, konsentrasi, serta stamina yang tinggi.

Terlahir dalam keluarga seni, penyair kelahiran Tabanan, 27 September 1949 ini menekuni seni sastra, seni rupa, seni drama/teater dan seni musik sejak kecil. Sejak tahun 1968 sampai kini aktif menciptakan seni sastra, terutama puisi. Dan aktif membawakan atau membacakan karya-karya pusisinya terutama puisi modre yang menjadi ciri khasnya.

Lewat puisi-puisi modre tersebut, membawanya dalam event-event pagelaran seni sastra di tingkat lokal, nasional dan internasional. Di dalam dan luar negeri, antara lain Singapura, Malaysia, Afrika Selatan (Johannesburg), Zimbabwe, dll.

Jebolan Sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia ini mengakui dalam menciptakan sebuah karya sastra kadang bisa diselesaikan dengan cepat, kadang lama bahkan bisa bertahun-tahun. “Tidak tentu, kadang sebuah karya puisi bisa sehari selesai. Kadang bisa lama, bertahun-tahun baru selesai,” ungkapnya ketika usai membaca puisi di Bentara Budaya Bali.

Ketika ditanya, berapa lama menyelesaikan puisi “Leak Lanang, Leak Wadon, Leak Kedi” yang panjang itu. “Puisi tadi itu saya selesaikan dalam jangka waktu 4 tahun,” jawab pensiunan guru SMPN 2 Tabanan ini. (SB-Raka Wirawan).

Comments

comments

Comments are closed.