Memastikan Kematian | Margriet Menyulut Rokok Ke Tubuh Engeline

1596
Ilustrasi foto Engeline dan Margriet (foto Ijo).

1. Engeline Bertugas Memberi Makan 100 Ekor Ayam

SULUHBALI, Denpasar — Margriet menyulutkan rokok ke tubuh Engeline untuk memastikan kematian anak angkatnya ini. Rokok menyala itu milik pekerja serabutan di rumahnya bernama Agustay Hamda May, yang justru diminta melakukan hal tersebut, tapi malah membuang putung rokoknya. Hal ini diyakini Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Denpasar Subekhan, SH. MH yang dibacakan pada sidang perdananya, Kamis (22/10/2015).

Disebutkan jaksa di depan majelis hakim, bahwa Engeline lahir dari orangtua bernama Achmad Rosyidi dan Hamidah, yang dilahirkan 19 Mei 20017 di Tibubeneng, Canggu, Badung. (Pasangan asal Banyuwangi ini, kemudian diketahui bercerai…red)

Lalu Engeline diadopsi oleh Margriet Christina Megawe. Pengakuan pengangkatan anak dilakukan di hadapan notaris Anneke Wibowo yang berkedudukan di jalan Teuku Umar, Denpasar, 24 Mei 2015. Namun akta ini tidak ditindaklanjuti dengan prosedur memperoleh penetapan Pengadilan. Namun Margriet tetap mengasuh anak angkatnya di Canggu, hingga pindah ke jalan Sedap Malam 26, Denpasar.

Proses mengasuh Engeline ini wajar saja, karena turut merawat juga adalah anak kandung Margriet bernama Yvonne Carolie Megawe dan Christina Scarborough yang sering menjenguk. Bahkan Engeline di sekolahkan di TK/PAUD Tri Permata Bumi dalam rentang waktu bulan juli 2012- Juni 2013. Lalu memasuki kelas 1 SDN 12 Sanur, tetap diantar Margriet ke sekolahnya. Namun setelah kelas 2, gadis usia 8 tahun ini harus berjalan sendiri ke sekolahnya yang berjarak 2 kilometer, harus melewati persawahan dan kebun milik warga setempat.

Sejak 2013 Margriet memelihara hingga 100 ekor ayam dan memperkerjakan Engeline untuk memberi makan dan minum ayam-ayam tersebut sejak pukul 06.00. Aktivitas ini, kemudian dibantu pekerja laki-laki bernama Agustay Hamda May, asal Sumba. Bila dianggap tidak becus, Margriet tidak segan memarahi . Baru menjelang siang baru, Engeline disuruh bersiap sekolah, tanpa membantu merapikan penampilan korban yang tergolong anak anak dan tidak menyisir rambut.

Dari hasil visum et repertum keterangan ahli forensik dr. Ida bagus Putu Alit, Spf, Dmf diketahui Engeline kurang gizi , karena dibuktikan dengan sedikitnya cadangan lemak dinding dada dan dinding perut. Berat badan 22 kilogram dengan panjang badan 127 cm. Pada otopsi juga ditemukan lambung kosong yang tidak berisi makanan sehingga kurang asupan makanan sebagai penyebab kurang gizi .

Ternyata pula, Margriet tidak memperhatikan perkembangan rohani Engeline, karena tidak pernah mengajak anak angkatnya ini ke gereja. Sehingga ini dituduhkan jaksa telah memperlakukan anak secara diskriminatif yang mengakibatkan anak mengalami kerugian, baik materiil maupun moril sehingga menghambat fungsi sosialnya.

2. Magriet Membanting Engeline

Pada tanggal 15 Mei 2015 didakwakan Jaksa, Margriet telah memukul Engeline hingga kedua telinga dan hidung mengeluarkan darah. Dan untuk menutupi hal tersebut, wanita 60 tahun asal Kalimantan Timur ini merencanakan menghilangkan nyawa korban pada tanggal 16 Mei 2015 sekitar 12.30, dengan memukul Engeline dengan tangan kosong berkali-kali ke arah wajah dan juga menjambak rambut dan membenturkan kepala ke tembok sehingga Engeline menangis dan berkata “Mama cukup Ma, lepas Ma.”

Rintihan Engeline didengar Agustay. Tak lama kemudian pekerjanya ini dipanggil Margriet, “Agus kesini sebentar,” dan dijawab Agustay, “Ya Bu.”

Saat masuk ke kamar Margriet, Agus melihat tuannya ini sedang memegang rambut korban dengan kedua tangannya dengan keras dengan posisi tubuh Engeline miring menghadap ke tempat tidur, kakinya menyentuh lantai, tangan kirinya terkulai lemas ke lantai akan tetapi posisi kepalanya setinggi tempat tidur.

Selanjutnya Margriet membanting korban ke lantai sehingga korban jatuh di lantai dengan kepala bagian belakang membentur lantai, setelah itu korban terkulai lemas di lantai. Melihat hal tersebut, Agus dengan posisi jongkok berusaha mengangkat bagian leher Engeline dengan tangan kirinya, sambil bertanya, “Buk alasan apa ibu memukul Engeline seperti ini?”

Namun Margriet malah memegang tangan Agus, sehingga Agus meletakan kembali tubuh Engeline di lantai yang sudah tidak berdaya tersebut; matanya terbuka tapi tidak bergerak, hanya jari tengah dan jari manis tangan korban saja yang bergerak-gerak.

Saat Agus berdiri, Magriet mendekatkan mukanya sambil berbisik, “Tolong kamu jangan kasi tahu siapa siapa kalau aku memukul Engeline. Dan tolong kamu jangan sampai buka rahasia ini. Kalau kamu tidak buka rahasia saya kasi kamu uang Rp 200 juta. Tanggal 24 Mei aku kasih uangnya, langsung kamu pulang ke sumba dan jangan pernah kembali-kembali lagi.”

Margriet lalu berkata, “Kamu ambil dulu sprei yang ada di kamarmu.” Kemudian Agus mengambil kain sprei dan membawanya ke kamar Margriet . Di kamar Agus disuruh menaruh tubuh Engeline di atas sprei dengan posisi miring, kemudian Margriet menekuk kedua kaki korban ke arah dada.

3. Boneka Barbie Berambut Putih

Agus disuruh menyiapkan tali dan memintanya untuk mengikat tubuh Engeline yang sudah tidak bergerak. Lalu diminta mengambil boneka Barbie rambut warna putih yang kemudian diletakan di atas dada Engeline. Kemudian Margriet menginjak kaki kanan Engeline.

Margriet minta Agus membuka baju yang dikenakannya dan meletakan di atas badan Engeline. Selanjutnya meminta Agus membuka celana dalam Engeline serta turut membantunya menarik celana dalam korban hingga lepas.

Magriet lalu memerintah Agus memperkosa Engeline, namun Agus tidak mau dan lari ke kamarnya sendiri. Setelah mencuci tangan di kamar mandi, kemudian mengganti celana yang dipakainya yaitu celana jeans pendek warna hitam dan mengambil kain korden warna merah. Selanjutanya celana jeans dan korden tersebut, sekembalinya ke kamar Margriet diletakan di atas tubuh Engeline.

Margriet meminta Agustay menyalakan rokok dan menyulut tubuh Engeline, namun ia tak mau, malah membuang rokoknya. Margriet mengambil rokok tersebut, dan melakukan sendiri dengan menyulut rokok itu ke punggung Engeline. Saat tubh Engeline di visum oleh dr.Dudut Rustiyadi Sp.F ditemukan luka bakar tersebut.

Agus disuruh membungkus tubuh Engeline, menggali lubang di halaman belakang dekat kandang ayam dan menguburkan Engeline di lubang tersebut. Di atas kuburan tersebut, Margriet menaburkan makanan ayam untuk menghilangkan kecurigaan, “Biar tidak ketahuan kalau disini ada bekas galian,” ujar Margriet pada Agus.
Lalu menginatkan “Kalau bu Susisani dan Pak Handono pulang, kamu pura-pura tanyain keberadaan engeline dan saya nanti keluar pura pura nanya ke tetangga.”

Handono dan Susiani adalah pasangan suami istri yang kos di rumah Margriet. Engeline yang sudah dilaporkan hilang ke polisi oleh Margriet pada tanggal 16 Mei 2015, ditemukan oleh polisi terkubur di halaman belakang rumahnya pada tanggal, Rabu 10 Juli 2015. (SB-wan)

Sumber : Pembacaan Dakwaan oleh Jaksa Kejari Denpasar di Pengadilan Negeri Denpasar, saat sidang perdana dengan Tersangka Magriet Megawe.

4. Comments

comments