Melihat “Subak” di Museum

2
1201

Museum Subak Tabanan. (foto raka wirawan)

SULUHBALI.CO, Tabanan — Disebutkan bahwa sistem perladangan dan persawahan yang teratur telah ada di Bali pada tahun 882 M. Dalam Prasasti Sukawana AI tahun 882 M terdapat kata “Huma” yang berarti sawah, dan kata “Perlak” yang berarti Tegalan. Kemudian dalam prasasti Raja Purana Klungkung yang berangka tahun saka 994 (1072 M), disebutkan kata “Kasuwakan” yang kemudian menjadi “Suwak” atau “Subak”. (Buku : Museum Subak, oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Tabanan).

Museum Subak yang terletak di Desa Sanggulan, Kediri, Tabanan, diresmikan tanggal 13 Oktober 1981 oleh Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Bali. Adapun tujuan mendirikan museum subak tersebut, diantaranya adalah untuk menyelamatkan, mengamankan dan memelihara berbagai benda yang berkaitan dengan subak. Disamping juga untuk menyuguhkan berbagai informasi, dokumentasi serta sebagai sarana study dan penelitian.

subak12
Dapur, koleksi museum Subak, Tabanan.

Kini di dalam museum subak tersebut dapat dilihat berbagai benda maupun peralatan yang digunakan oleh para petani tempo dulu. Yang mana alat-alat tersebut kini sudah hampir jarang kita saksikan lagi. “Tapi kalau bapak mau masuk ke daerah-daerah seperti Jatiluwih, masih ada kok alat-alat tersebut digunakan oleh para petani kita,” ungkap Ida Ayu Ratna Pawitrani, S.Sos. Kepala UPTD Museum Subak Sanggulan, Tabanan, ketika ditemui Rabu, (2711/2013) di ruang kerjanya. Ditambahkan olehnya, tiap hari ada saja tamu yang berkunjung ke museum subak. “Memang kebanyakan warga lokal, anak-anak sekolah, disamping beberapa tamu atau turis asing,” katanya.

Bagi anak-anak sekolahan sekarang, tentu merasa asing bila melihat alat-alat yang digunakan oleh para petani jaman dulu untuk menggarap sawahnya, hingga menjadi beras. Alat-alat yang disimpan dalam museum subak tersebut, seperti : Lampit, yang digunakan untuk meratakan tanah sawah setelah dibajak. Kemudian ada Tenggala: alat untuk membajak, Anggapan : alat untuk memotong padi. Pulu : tempat menyinpan beras, Tembuku : pembagi air. Kepuakan : alat untuk mengusir burung,

Disamping alat-alat tersebut, dalam museum subak juga tersimpan Lontar dan Tika, yang digunakan sebagai pedoman dalam bertani. Termasuk caratan, sok nasi, cikar, miniatur bangunan Bali yang berisi Lumbung, tempat menyimpan padi. Cangkul, arit, penampad, madik, dan bungut paon : tempat menanak nasi. Luu, Ketungan : sebagai alat menumbuk padi. Melihat benda-benda yang tersimpan dalam museum subak, kita seperti berjalan ke masa silam, bagaimana para petani dengan alat-alat yang sangat sederhana dan terbuat dari bahan-bahan yang sederhana pula. Mereka dengan peralatan dan sarana tersebut menggarap sawahnya, memeliharanya, hingga mengorganisirnya dengan baik sebagai sebuah sistem yang disebut Subak. (SB-Raka Wirawan)

 

 

 

Comments

comments

Comments are closed.