“Melayangan” Menjadi Tradisi Budaya, Pemerintah Diharapkan Mau Sediakan Tempat

40
SULUH BALI, Denpasar – Melayangan (bermain layang-layang) merupakan bagian dari budaya masyarakat Bali. Tradisi yang muncul secara alami dari masyarakat Bali dalam kebersamaan setelah melakukan panen di sawah.
“Setelah panen padi, layangan dibentuk secara bersama sekaligus menjadi kegiatan melayangan,” ungkap Kadek Dwi Ardika, Undagi layang-layang Bali pada Dialog budaya: Layang-layang Budaya + Ekonomi Kreatif, di Griya Santrian, Jumat (11/8/2017).
Layangan Bali juga merupaka  bagian dari filosofis budaya. Dimana setiap layangan memiliki makna tersendiri, seperti janggan berfilosofi pada naga, pecukan daun, bebean ikan.
Selain itu, layangan juga diyakini nilai religius, “ritual keagamaan dengan nilai filosofi dengan interpretasi jiwa yang disebut dengan Rare Angon,” kata Ardika.
Sementara Humas Persatuan Layang-layang Indonesia (Pelangi) Bali, Made Yudha mengeluhkan tempat melayangan yang saat ini masih kurang. Hal ini diharapkan menjadi perhatian pemerintah dalam mendukung aktivitas melayangan di Bali.
“Pemerintah kami harap menyediakan space. Ada space, ada tempat untuk bermain layang-layang. Setiap kabupaten harus punya tempat bermain layang-layang,” ujarnya.
Ia menuturkan di Prancis khusus melayangan bahkan diberikan tempat yang cukup luas. Namun di Bali masih perlu tempat-tempat yang disediakan secara khusus untuk melayangan. Ia juga berharap nantinya di Sanur bisa dibangun museum layangan sebagai pusat untuk belajar layang-layang khususnya layangan Bali. (SB-Skb)

Comments

comments