Suasana Melasti di pantai Klating, Tabanan (foto rka).

SULUHBALI, Tabanan – Pantai-pantai di Bali mulai dipadati dan diserbu warga untuk melaksanakan upacara Melasti/Mekiyis serangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1938 yang jatuh pada Rabu (9/3/2016). Iring-iringan truck mengangkut Joli, warga pengring maupun truck yang membawa sekaa gong, disusul mobil-mobil pribadi dan iringan-iringan kendaraan roda dua saat ini mulai mewarnai jalanan di berbagai tempat.

Sebelum berangkat Melasti menuju pantai, Bhatara-Bhatari Kahyangan dan warga pengiring dari masing-masing Banjar Adat, Dadia maupun Merajan berkumpul di Pura Puseh/Bale Agung. Namun pelaksanaan Melasti oleh beberapa Desa Pekraman ada juga tidak ke pantai tetapi dilaksanakan di Campuhan yang dekat lokasinya dengan Desa Pekraman bersangkutan.

Di Tabanan pelaksanaan Melasti dilaksanakan di beberapa pantai mulai sejak hari Sabtu (5/3/2016). Seperti Pantai Kelating, Pantai Pasut, Pantai Kedungu, Yeh Gangga, Pantai Soka dan beberapa pantai lainnya.

Menurut pengurus adat, pemilihan hari dan waktu sebelumnya dilakukan koordinasi antar Desa Pakraman agar tidak terjadi penumpukan di pantai maupun kemacetan lalu-lintas. “Tapi desa kami melarang warga mengiringi dengan menggunakan kendaraan roda dua. Agar tidak terjadi kemacetan dan iring-iringan yang panjang,” ujar salah seorang pecalang ditemui di pantai Kelating, Kerambitan yang sedang sibuk mengatur lalu-lintas menuju pantai.

Pelaksanaan Melasti ini, ada Desa Pekraman yang menggunakan sarana kendaraan seperti truck, mobil maupun kendaraan roda dua. Ada juga Desa Pekraman yang masih tetap mempertahankan tradisi Melasti ini dengan berjalan kaki menuju pantai atau campuhan. Pantai-pantai yang digunakan untuk upacara Melasti tersebut, kini sudah bisa dilewati oleh semua jenis kendaraan langsung menuju pantai. Di Pantai Kelating misalnya, semua jenis kendaraan bisa langsung menuju pantai dengan sarana parkir yang juga memadai.

Di pantai atau campuhan, saat Melasti Bhatara Bhatari yang “diusung” dengan sarana Joli yang dihias ini dilakukan upacara Mesucian dan persembahyangan oleh warga yang mengiringi. Kemudian beberapa sarana dan perlengkapan dibasuh secara simbolis dengan air laut. Diikuti oleh warga dengan membasuh kaki, muka maupun tangan mereka. Sekembalinya dari Melasti BhataraBhatari tersebut kembali berkumpul di Pura Puseh/Pura Desa sampai hari dilaksanakannya Tawur Kesanga/Pecaruan sehari sebelum Nyepi. (SB-Rk).

Comments

comments