SULUHBALI.CO, Badung — Masyarakat Desa Munggu, Kabupaten Badung, Bali, memasukkan tradisi “Mekotek” ke dalam agenda wisata rutin,
“Tradisi ini rutin kami gelar setiap Hari Raya Kuningan,” kata Kepala Desa Munggu, I Ketut Darta, di sela-sela pergelaran tradisi “Mekotek”, Sabtu (2/11).

Kegiatan itu diikuti kaum pria berusia 15-60 tahun berjalan beriringan dengan membawa kayu sepanjang 3,5 meter yang saling dipukul antara yang satu dengan lainnya sehingga menghasilkan bunyi “tek tek..tek” Kayu-kayu mirip galah itu membentuk formasi menyerupai gunung. “Tradisi ini sebagai upaya untuk menolak bala,” kata Darta menuturkan.

Dahulu kala tradisi yang dilestarikan oleh masyarakat Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda karena dianggap bisa menimbulkan pemberontakan, apalagi ratusan warga membawa kayu bersama-sama.

“Namun ketika kami tidak menggelar ritual itu, di desa ini justru tertimpa wabah penyakit,” ujarnya.

Mekotek diambil dari kata “tek-tek” yang merupakan efek dari bunyi kayu yang saling bergesekan. Kayu yang digunakan untuk Mekotek harus dari jenis “pulet”.

Tradisi itu dulunya untuk merayakan kemenangan pasukan Kerajaan Mengwi menumpaskan pasukan Kerajaan Blambangan dari Banyuwangi, Jawa Timur. Kegiatan itu didahului dengan persembahyangan di pura desa. Kemudian kaum pria berjalan beriringan dengan membawa kayu mengelilingi seluruh penjuru desa.  Mereka berjalan sambil bersorak bersahut-sahutan hingga menuju areal persawahan di ujung desa yang berjarak sekitar 10 kilometer di sebelah barat pusat Kota Denpasar itu.

Selain Mekotek, warga Desa Munggu juga melakukan parade ogoh-ogoh setiap menyambut Hari Raya Nyepi. “Parade ogoh-ogoh dilaksanakan

pada hari pengerupukan atau sehari sebelum Nyepi. Ada 20 ogoh-ogoh yang diarak,” kata Darta.

 

mekotek
Mekotek di Munggu. (foto iwan darmawan)

Mesuryak di Tabanan

Sementara itu di Tabanan ada adisi Mesuryak setiap Kuningan, tepatnya di Desa Adat Bongan, Kabupaten Tabanan.
Mesuryak yang berarti suka-cita itu, anak-anak dan remaja di Desa Adat Bongan bergerombol di halaman rumah keluarga berada. Tuan rumah pun keluar sambil menghambur-hamburkan uang yang kemudian diperebutkan oleh remaja dan anak-anak.

Menurut Kepala Dusun Adat Bongan Gede, I Made Wardana, Mesuryak merupakan ritual untuk membekali leluhur mereka dalam perjalanan kembali menuju surga.

Sebelumnya arwah para leluhur yang mendahului mereka diyakini pulang ke rumah keluarganya yang masih hidup pada Hari Raya Galungan yang jatuh pada 10 hari sebelum Hari Raya Kuningan.

“Pada saat kembali menuju surga itulah kami membekalinya melalui ritual Mesuryak,” kata Wardana.

Pemberian bekal itu disimbolkan dengan menyebar uang di jalan atau di halaman rumah warga sesuai kondisi ekonomi masing-masing, mulai dari uang receh hingga uang kertas yang jumlahnya bisa mencapai jutaan rupiah.

Sebelum menggelar ritual itu, umat Hindu di Desa Adat Bongan melakukan persembahyangan di pura Tri Kahyangan atau tiga pura yang wajib ada di desa adat, yakni Pura Desa (tempat bersemayamnya Dewa Brahma), Pura Puseh (tempat bersemayamnya Dewa Wisnu), dan Pura Dalem (tempat bersemayamnya Dewa Siwa).

Warga pulang dengan membawa sesajen yang dilanjutkan dengan Mesuryak.
Dahulu kala masyarakat Desa Adat melakukan Mesuryak dengan mengunakan uang kepeng. Namun seiring perkembangan zaman, uang kepeng diganti dengan uang logam dan uang kertas.

Saat uang itu disebar ke udara, terjadilah perebutan antara anak-anak dan remaja yang berkumpul di depan rumah warga. (SB-ant)

Comments

comments

Comments are closed.