Megibung | Tradisi Kebersamaan “Menyama Braya”

208
foto-skb

SULUH BALI, Karangasem – Makan bersama-sama dalam ikatan kebersamaan tradisi Megibung tetap ajeg menjadi tradisi di kabupaten Karangasem.

Megibung adalah sebuah proses makan bersama-sama dalam satu wadah yang terdiri atas nasi serta lauk-pauknya. Dalam pelaksanaannya pun memiliki ketentuan dan tidak hanya sekedar proses makan, namun memiliki beberapa aturan khusus.

Diawali dengan proses mebat atau kegiatan membuat olahan khas Bali seperti lawar, komoh, sate dan olahan lainnya baik pada saat upacara Dewa yadnya di pura, manusia yadnya, pitra yadnya, rsi yadnya.

Mebat dilakukan secara bersama-sama, bergotong royong, setelah selesai baru dipersiapkan beberapa gibungan yang diletakan di atas klakat khusu sebagai gibungan.

Terdiri dari dua satu klakat berisi nasi putih disampingnya dilengkapi dengan sambel sera atau sambel matah, sementara klakat di sampingnya diisi dengan bunga gubungan yang terdiri atas masakan lawar, sate, komoh dan olahan lainnya.

Setelah semua sudah siap, barulah sang yajamana (pemilik yadnya) menyampaikan terimakasih atas suka-duka yang telah dilakukan dan dilanjutkan dengan mempersilakan untuk duduk menghadap gibungan yang telah disediakan masing-masing.

Kemudian, setelah benar-benar siap semua orang yang biasanya terdiri atas 5-8 orang menghadap gibungan, baru kemudian dipersilakan untuk mulai makan.

Dalam makan pun ada ketentuannya yakni yang terlebih dahulu di taruh diatas nasi untuk dimakan bersama yakni yang berbentuk olahan lawar, komoh dan lainnya sedangkan sate biasanya disajikan di ahir dan dibagi masing-masing peserta.

Pada saat makan tidak boleh berbicara, sebelum habis nasi yang ada pada gibungan peserta tidak boleh bangun atau selesai megibung. Setelah seluruh peserta menghabiskan gibungan dan dirasa sudah cukup barulah kemudian peserta dipersilakan bangun dan meninggalkan tempat megibung.

Uniknya, dalam tradisi megibung tidak ada perbedaan antara peserta setiap orang bebas memilih makan dengan siapa saja, namun khusus untuk pemuka atau prajuru adat serta pemangku diberikan tempat lain namun juga dengan cara megibung. (SB-Skb)

Comments

comments