“MACECIMPEDAN” di PKB

862

Berbagai hiburan dari hiburan dan pementasan yang dihadirkan dari setiap2 kabupaten untuk memeriahkan pesta kesenia bali(PKB), salah satu pementasan permainan tradisioanal yang dipentas kan pada hari jumat tgl 5-7 2013, yaitu lomba kesenian tradisioanl macecimpedan.

Macecimpedan adalah permainan tradisioanl bali yang permainannya dimainkan secara berkelompok atau perorangan. Permainan ini dimainkan untuk menguji pengetahuan untuk seberapa besar pengetahuan anak2 bali tentang cecimpedan.Dimana dalam permainan ini diisi dengan candaan khas anak2 bali.

Permainan tradisional macecimpedan sudah sangat ditinggalkan oleh anak2 bali.Karena mungkin perkembangan jaman ,peminat permainan tradisional macecimpedan ditinggalkan oleh anak2 bali,Masyarakat bali sangat antusias dengan pementasan lomba macecimpedan ini. Terbukti dengan membludaknya pengunjung yang mendatangi untuk menonton pementasan lomba macecimpedan ini.

Masyarakat yang datang untuk menonton lomba cecimpedan ini datang dari berbagai kalangan,baik dari ibu-ibu,bapak-bapak,anak2.

Perlombaan seperti ini sangat bagus dilakukan untuk memupuk kecintaan anak-anak bali akan permainan khas tradisional bali.

“Kegiatan itu merupakan salah satu cara menanamkan apresiasi budaya ke generasi muda sebagai bagian tradisi sastra di Pulau Dewata,” kata Ketua Panitia Lomba “Nyastra” PKB, I Nyoman Suarka, di Denpasar, Jumat.

Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Udayana itu menjelaskan bahwa cecimpedan merupakan tradisi seni masyarakat Pulau Dewata yang dibawakan secara lisan mengenai teka-teki yang biasanya dibawakan oleh anak-anak saat tengah bermain.

“Untuk lebih menarik minat anak-anak menekuni seni tradisi itu kami kemas dengan seni pertunjukan. Saat mereka melontarkan pertanyaan dilakukan dengan tembang sehingga lebih menarik, lebih segar, dan tidak monoton tanpa menghilangkan inti cecimpedan,” ucapnya.

Dia mengungkapkan bahwa cecimpedan merupakan salah satu dari enam kegiatan lomba “nyastra” yang menjadi satu-satunya lomba dalam PKB 2013, di antaranya lomba mesatua atau bercerita, pidato, membuat aksara Bali, membuat cerita pendek, dan mewirama kekawin yang semuanya menggunakan bahasa Bali.

Dia mengungkapkan bahwa selain sebagai pembinaan, tradisi “nyastra” juga bisa menjadi ajang edukasi termasuk pengembangan ekonomi kreatif salah satunya melalui keterampilan pembuatan lontar dan “mesatue”.

“Tidak tertutup kemungkinan bisa menjadi aset budaya yang menghasilkan ekonomi kreatif, seperti membuat aksara Bali dalam lontar diolah menjadi produk kreatif desain untuk oleh-oleh,” ucapnya.

Ade Putra A./Gustiar/Enny Astuti
Seputar PKB 08/07/2013

Comments

comments

Comments are closed.