Mati Salah Pati Ngulah Pati Meski Diupacarai Tetap Gentayangan Jadi Butha Cuil

12733
I Kadek Satria, S.Ag, M.Pd.H

SULUH BALI, Denpasar – Mengambil jalan pintas dengan mati salah pati dan ngulah pati ahir-ahir ini semakin marah terjadi  di Bali. Fenomena ini ditanggapi I Kadek Satria, S.Ag, M.Pd.H, akademisi Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar sebagai tindakan yang tidak benar dilakukan berpedoman pada lontar geguritan aji pelayon.

“Amat tidak dibenarkan jika kematian dilakukan dengan salah pati dan ngulah pati karena kematian itu belum saatnya,” kata Satria, saat ditemui di kampus Unhi Denpasar, Sabtu (25/2/2017).

Dijelaskannya pada lontar geguritan aji pelayonan termuat ada empat jenis kematian yakni mati jati, mati ulah pati, mati salah pati dan mati ngulah pati.  Jika mengambil jalan kematian yang belum saatnya (ngulah pati dan salah pati) akan berakibat atma menjadi gentayangan dan tidak akan mendapatkan tempat yang layak setelah kematiannya.

“Apabila kematian belum saatnya diyakini belum akan mendapatkan tempat di sana, maka sebesar apapun upacara tetap akan menjadi butha cuil,” jelasnya.

Dalam tradisi Bali jika ada orang yang mengalami mati ngulah pati dan salah pati akan diupacari dengan upacara meseh lawang, “mesehartinya menganti dan lawang artinya pintu jadi pintu kematiannya itu sudah disahkan,” ungkap pria yang juga sebagai pedharma wecana ini.

Satria memandang fenomena mati bunuh diri sebagai bagian dari tekanan psikis maupun tekanan pragmatis yang terkait dengan berbagai masalah kehidupan yang tidak bisa diselesaikan. Namun secara Hindu permasalahan ini dipandang sebagai kegelapan pikiran yag kosong akan ajaran kebenaran, “intinya  hal itu menurut konsep Hindu adalah mengalami awidya (kegelapan pikiran),” katanya.

Menurutnya persoalan seperti ini harus segera dicarikan solusi dengan cara mendekatkan umat dengan agama, “agama harus dekat dengan mereka, setiap kegiatan ritual apapun harus ada sentuhan dharma wecana oleh tokoh agama, pemangku, pemimpin adat, penyuluh agama sehingga awidya umat itu hilang,” ujar Satria. (SB-Skb)

Comments

comments