Dewa Ayu Putu Sri Wigunawati, S.Sos, SH., MSi (foto-raka)

SULUHBALI.CO, Denpasar – Masalah sampah kerap diwacanakan, didiskusikan, tapi begitu terjadi banjir ataupun dampak-dampak yang ditimbulkan oleh sampah barulah kita sadar kalau masalah sampah sebenarnya menyangkut dengan kebiasaan dan sikap hidup. “Persoalan sampah sebenarnya bukan hal yang besar, asal dimulai dengan disiplin yang dimulai dari diri sendiri, keluarga dan kemudian dalam lingkup yang lebih luas,” ungkap Dewa Ayu Putu Sri Wigunawati, S.Sos, SH., MSi dalam sebuah diskusi mengenai sampah liquid di warung Tresni, Selasa (24/12/2013) yang lalu. ” Awali pekerjaan kecil termasuk dalam pengelolaan sampah, dari pribadi atau individu. Sehingga hal tersebut bisa menjadi kebiasaan atau sikap hidup sehari-hari,” imbuh Advokat dan juga Dosen FISIP UNUD ini.

Menurutnya lebih baik menggunakan bahan yang alami, bahan-bahan yang organik seperti daun pisang sebagai pembungkus makanan, jadi penggunaan plastik kalau bisa diminimalkan. Penggunaan plastik untuk pembungkus makanan, disamping akan menambah sampah, makanan yang panas misalnya dibungkus dengan plastik akan menimbulkan dampak bagi kesehatan.

video-gustiar

Sebagai wanita ia tentu juga mengamati situasi dalam rumah tangga, begitu pula pola hidup warga dalam keseharian dalam berbelanja, baik itu belanja di pasar-pasar modern atau mall, pasar tradisonal, mini market. “Kalau menggunakan bahan-bahan yang alami seperti daun pisang malah akan ikut membantu warga kita secara ekonomi. Karena daun-daun pisang akan menjadi bermanfaat, bernilai ekonomi, warga yang memiliki kebun pisang memperoleh manfaat ekonomi. Warga yang lain tentu juga akan semangat menanam pisang,” ungkapnya.

Ia menyarankan warga juga mesti menolak, setiap beli satu barang dapat tas kresek. Kalau bisa swalayan-sawalayan, warung-warung mengganti tas kresek dengan tas yang ramah lingkungan. “Bisa juga solusinya adalah, warga yang berangkat ke pasar swalayan ataupun ke pasar tradisional, bawa sendiri tas dari rumah. Sehingga lebih efektif, tidak lagi dapat tas-tas kresek usai belanja. Kalau setiap belanja dapat tas kresek, bisa dibayangkan berapa tas kresek yang numpuk di rumah masing-masing warga,” pungkas wanita yang getol berorganisasi serta penggiat lingkungan sejak duduk di bangku SMP ini. (SB-Raka).

Comments

comments

Comments are closed.