Mangku Pastika : Jangan Laksanakan Ritual Agama Secara Mewah

1158
Mangku Pastika sedang melihat upakara di desa Kedis, Buleleng (foto humas.Bali).

SULUH BALI, Singaraja — Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengingatkan pada masyarakat agar dalam melaksanakan ritual keagamaan tidak secara mewah dan jangan sampai membebani warga miskin.

“Jangan sampai ada masyarakat yang stres karena tidak bisa bayar urunan, itu Jro Bendesa (pimpinan desa adat) berdosa besar namanya, kecuali kalau desanya sudah kaya tidak apa-apa itu,” kata Pastika saat menyampaikan dharma wacana (ceramah keagamaan) di hadapan masyarakat yang mengikuti upacara Ngaben massal, di Desa Adat Kedis, Singaraja, Sabtu (22/11/2015).

Pastika juga mengakui dirinya sangat tidak suka jika ada suatu desa yang melaksanakan upacara “yadnya” atau persembahan dengan sangat mewah dan menghabiskan banyak dana. Padahal di desa tersebut masih banyak masyarakat miskin, masyarakat yang tidak punya rumah, masyarakat yang sakit dan tidak bisa berobat serta masyarakat yang tidak bisa sekolah akibat dari kemiskinan tersebut.

Menurut dia, yadnya yang mewah tersebut hanya akan membebani masyarakat miskin yang ada di desa tersebut.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mengubah “mind set” atau pola pikir tentang Agama Hindu ke arah yang lebih baik sehingga masyarakat menjadi lebih memahami tentang Agama Hindu dan memiliki keyakinan yang kuat tentang agamanya.

Upacara Ngaben yang merupakan sebuah rangkaian upacara sakral yang ada di Bali hendaknya dimaknai sebagai salah satu upaya untuk membayar utang kepada leluhur yang sering diistilahkan dengan Pitra Rna.

Selain itu, tambah Pastika, sesungguhnya upacara Ngaben itu bisa dilaksanakan sendiri-sendiri, namun akan terasa lebih baik bila dilaksanakan bersama-sama secara bergotong royong dengan semangat menyama braya (persaudaraan).

“Coba kita bayangkan kalau atma (roh) itu berjalan sendiri ke sana pasti akan terasa kesepian dia, bandingkan kalau ramai – seperti saat ini, pasti akan terasa lebih menyenangkan. Jadi saya menganggap ngaben secara bersama atau massal itu adalah bukan hal yang nista dan masyarakat saya harap tidak perlu minder jika melaksanakan upacara Ngaben massal seperti ini,” tegas Pastika.

Dalam melaksanakan upacara Ngaben, Pastika mengingatkan agar dilaksanakan dengan tulus ikhlas serta niat yang baik.

“Jadi tidak ada perbedaan antara yang melaksanakan sendiri-sendiri maupun bersama,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Upacara I Ketut Rena menyatakan upacara yang puncak pelaksanaannya pada tanggal 24 November ini dilaksanakan dengan upaya untuk meminimalisasi pengeluaran yang dikeluarkan setiap masyarakat.

Ia mengaku sarana-sarana upacara sebisa mungkin didapat tanpa mengeluarkan biaya yang banyak, misalnya seperti bambu yang masih bisa dicari di alam. (SB-ant)

Comments

comments