Mangku Pastika Hadiri Konser “North to South International Concer”

155
Gubernur memberikan bunga pada salah satu seniman Gde Yudane usai konser kolaborasi musik antar negara.
Gubernur memberikan bunga pada salah satu seniman Gde Yudane usai konser kolaborasi musik antar negara.

Kolaborasi seniman asing dan lokal dalam pementasan bertajuk  North to South International Concer di Bantara Budaya, Ketewel, Kabupaten Gianyar, Kamis (18/7) mampu mencuri perhatian Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang membaur di tribun penonton.

Gubernur menilai, pertunjukan yang disajikan para seniman malam itu sangat luar biasa. Gamelan Bali yang telah mendunia dipadukan dengan alat musik serta kesenian modern mampu menyuguhkan pementasan yang bisa dinikmati semua kalangan. Dia berharap, garapan seperti ini menjadi inspirasi para seniman untuk menciptakan karya-karya baru sehingga menambah khasanah seni dan budaya Bali.

Empat grup kesenian tampil begitu apik pada pementasan tersebut. Diawali dengan Grup Kesenian Tanihwa Jaya dari Welington, Newzealand. Membawakan karya composer Anton Killin, Tahnihwa Jaya membawakan sejumlah karya yang begitu memukau. Disusul penampilan Grup Gita Asmara, Kanada yang memadukan gamelan Bali dengan Tarian Ballet.Iringan gamelan Bali dengan ciri notasi dimanis mampu mengikuti gerakan ballet yang bertajuk ‘spink’.

Penampilan Gamelan Werdhi Swara, Selukat, Ubud juga tak kalah memukau. Membawakan garapan berjudul ‘Water’ karya I Wayan Gede Yudane, para seniman Bali itu mampu menghadirkan nuansa magis dan dinamis. Harmoni suara gamelan dan air mendapat aplause panjang dari penonton yang hadir. Secara keseluruhan, pertunjukan itu mampu mengundang decak kagum para penonton yang hadir.

 

Informasi pertunjukan dari Bentara Budaya :

Musik Gamelan, warisan leluhur kita, memang sudah menjadi milik dunia. Di banyak negara di segenap belahan benua, baik atas inisiatif pribadi maupun institusi, telah berdiri kelompok-kelompok pencinta musik ini. Apresiasi tersebut sejalan juga dengan terselenggaranya aneka festival internasional di kota-kota pusat seni mancanegara. Aneka kolaborasi digagas dan diwujudkan guna mengembangkan kemungkinan penciptaan baru berdasarkan alat musik tradisi nusantara ini, melibatkan komposer-komposer mumpuni dari berbagai latar musik, baik tradisi maupun modern. Kemudian lahirlah apa yang disebut sebagai Musik Gamelan Baru, ragam  karya “kontemporer”yang bersumber dari kekayaan seni tradisi.

Kali ini Konser Internasional ‘Mkonserusik Gamelan Baru’ di Bentara Budaya Bali menghadirkan kelompok gamelan Sekaa Gita Asmara –Kanada (pimpinan I Wayan Sudirana, Ph.D), Grup Gamelan Padhang Monchar dan Taniwha Jaya New Zealand School of Music (arahan Budi S Putra & Jack Body), Sekaa Gamelan Salukat (arahan Dewa Alit), dan Werdi Swaram (arahan Gde Yudane). Kelima kelompok ini memainkan aneka kreasi komposisi musik gamelan yang dipadukan dengan instrument musik barat.

Grup Gamelan Padhang Moncar dan Taniwha Jaya terdiri dari para mahasiswa musik dan masyarakat setempat yang mempelajari gamelan. Tidak hanya mempelajari gending tradisional, kedua kelompok ini juga aktif melakukan eksperimen kolaborasi dengan musik modern (barat). Kelompok tersebut telah menyelenggarakan berbagai acara internasional, antara lain, “Beat International Gamelan Festival”, melibatkan sekitar 200 seniman (gamelan) dari dalam maupun luar negeri termasuk Indonesia (Prof. Dr. Rahayu Supanggah), Amerika Serikat, Australia, Singapura dan Belanda (1999), pertunjukkan “A Night to Remember” bersama Didik Nini Thowok yang berkolaborasi dengan Seniman terkemuka Garret Farr, gamelan Jawa dan Bali di Museum Te Papa Wellinton (2004).Juga secara berkala  aktif menggelar program pentas wayang kulit bersama ki dalang Joko Susilo, berdomisili di Dunedin, Selandia Baru,  seperti pada agenda tahunan Asean Night Market dan lain-lain.

Gamelan Gita Asmara didirikan tahun 1996 oleh Michael Tenzer sebagai sebuah kelompok ensamble mahasiswa. Dalam perkembangannya, kelompok ini mencoba melakukan ekplorasi dengan menggunakan jenis gamelan Bali, Semaradhana. Di bawah arahan I Wayan Sudirana dan komposer Colin MacDonal serta Jocelyn Morlock, Gita Asmara secara intens melakukan latihan serta eksperimen di bidang musik guna meraihcapaian estetika baru yang  bernilai tinggi.

Jack Body menempuh pendidikan di Auckland University, in Cologne dan di The Institute of Sonology, Utrecht. Tahun1976-1977 ia menjadi dosen tamu di Akademi Musik Indonesia, Yogyakarta, dan sejak tahun 1980 ia telah mengajar di School of Music, Victoria University of Wellington, Selandia  Baru sekarang  dikenal sebagai The New School of Music. Musiknya mencakup berbagai genre, termasuk solo, musik orkestra, musik-teater, musik untuk tari dan film serta musik electroacoustic. Daya tari musik dan kebudayaan Asia, khususnya Indonesia, telah memberi pengaruh yang kuat pada musiknya. Di Victoria University of Wellington ia mendirikan sebuah residensi untuk musisi tradisional termasuk dari Indonesia, antara lain Agus Supriawan, Dody Ekagustdiman (keduanya dari Jawa Barat), Rafiloza bin Rafii (Minangkabau), Wayan Yudane (Bali), dan dari Kalinga, utara Filipina, Benny Sokkong. Sebagai manajer Victoria University Gamelan Padhang Moncar, dia telah mendorong penciptaan komposisi baru, yang telah direkam dan dipublikasikan, termasuk menggabungkan komposisi gamelan dan piano, gamelan dan orkestra, gamelan dan organ, gamelan dan paduan suara plainsong dll.Jack Body adalah komponis lintas budaya.

 

Gde Yudane, lahir di Kaliungu, Denpasar, menghasilkan karya musik konser, teater, instalasi maupun film. Meraih penghargaan Melbourne Age Criticism sebagaiCreative Excellent pada Festival Adelaide, Australia (2000) berkolaborasi dengan Paul Gabrowsky; Penghargaan Helpman sebagai Musik Orisinal Terbaik, Adikara Nugraha dari Gubernur Bali sebagai Kreator Komposisi Musik Baru (1999). Tampil di Festival Jazz Wangarata, Australia (2001), keliling Eropa dengan Teater Temps Fort, Grup France and Cara Bali, juga Festival Munich dan La Batie. Karyanya: musik film ‘Sacred and Secret’ (2010), Laughing Water and Terra-Incognita, dan Arak (2004), serta sebagainya.

 gamel1

Dewa Ketut Alit, lahir di Pengosekan Bali, usia 13 tahun menunjukan bakat komposernya, bergabung dengan Tunas Mekar Pengosekan. Ikut mendirikan Gamelan Semara Ratih, melakukan tur ke Jepang (1992) dan Denmark (1994). Tahun 1997 mendirikan Gamelan Sanggar Seni Cudamani, pentas keliling Amerika Serikat (2005, 2006, 2007). Pemenang Pertama Festival Musik Tradisi Tingkat Nasional di Jakarta (2000) ini mendirikan Grup Gamelan Salukat tahun 2007. Ia kerap diundang mengajar di Universitas British Colombia, Kanada, Institute Technology Massachusetts USA, dan Helena College Perth, Australia. Sempat tampil di Tokyo, Boston dan Vancouver, Kanada. (SB-hum-bentarabudaya)

 

Comments

comments

Comments are closed.