Mangku Pastika dan Swasthi Bandem Diberi Penghargaan Ciwa Nataraja

0
233
Mangku Pastika menerima penghargaan dari Rektor ISI Denpasar (foto humas.Bali)

SULUH BALI, Denpasar – Gubernur Bali Made Mangku Pastika diberikan Penghargaan Ciwa Nataraja, karena dinilai telah berjasa luar biasa dalam pengembangan dan peningkatan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Penghargaan diserahkan oleh Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar.,M.Hum, serangkaian Dies Natalis XIV ISI Denpasar, di Gedung Natya Mandala, Kampus ISI Denpasar, Jumat (28/7/2017). Selain Made Mangku Pastika, penghargaan tersebut juga diberikan kepada N.L.N Swasthi Wijaya Bandem.

“Setiap tahun kita evaluasi, ada ndak tokoh yang kita anggap memenuhi kriteria yang memiliki perhatian luar biasa. Baik kebijakannya maupun pengabdiannya. Mangku Pastika ini kita nilai kebijakannya, baik selaku pribadi maupun sebagai gubernur telah membuat kesenian itu hidup sepanjang tahun. Pertama konsistensi melaksanakan Pesta Kesenian Bali. Setelah Pesta Kesenian Bali, beliau menggagas 2 kegiatan seni di Taman Budaya. Yakni Bali Mandara Mahalango dan Bali Mandara Nawa Natya. Jadi sepanjang tahun kegiatan kesenian terus berlangsung. Sudah tentu berpengaruh sangat positif  bagi kita di ISI Denpasar ini. Karena lulusan ISI ini bisa berkiprah lebih banyak. Karena yang melatih sanggar-sanggar di masyarakat itu, yang menari, yang mencipta itu adalah lulusan ISI Denpasar. Apalagi gagasan Bapak Mangku Pastika, agar disana di Taman Budaya itu setiap hari ada pertunjukkan. Hal itu jelas sangat menguntungkan bagi para lulusan ISI,” ungkap Rektor ISI Denpasar tentang dipilihnya Made Mangku Pastika sebagi penerima penghargaan Ciwa Nataraja. “Sedangkan Ibu Swasthi Wijaya Bandem kita pilih karena  pengabdian beliau maupun karya-karya beliau yang tidak diragukan lagi dan sangat luar biasa,” tambahnya.

Kemudian yang tak kalah pentingnya, menurut Rektor ISI Denpasar ini, adalah kebijakan Made Mangku Pastika yang memberikan dan pemanfaatan Taman Budaya bagi kampus ISI Denpasar tanpa dipungut bayaran. “Beliau bilang silahkan gunakan Taman Budaya, nggak usah bayar. Dulu kan ada kebijakan, ada Perda siapapun yang menggunakan Taman Budaya harus bayar. ISI tidak mampu bayar. Tapi dengan kebijakan bapak Mangku Pastika itu, ISI tidak perlu bayar. Menjadikan sebuah kawasan budaya, Taman Budaya,  yang di dalamnya ada ISI Denpasar. Kan luar biasa itu,” urai Rektor asal Pujungan, Pupuan, Tabanan ini.

Mangku Pastika menggagas agar Taman Budaya yang disebut Art Center itu bisa selalu ada aktivitas kesenian. Tidak hanya setahun sekali ada aktivitas kesenian dengan digelarnya Pesta Kesenian Bali. Selesai Pesta Kesenian Bali, Taman Budaya kembali sepi. Maka untuk menghidupkan Taman Budaya, dia mempersilahkan ISI Denpasar memanfaatkannya sebagai kegiatan berkesian. Bahkan suatu ketika ia mengatakan agar Taman Budaya sekaligus bisa sebagai laboratorium seni. Tempat para seniman, mahasiswa seni belajar, berkarya dan sekaligus tempat untuk menampilkan karya-karya mereka. “Kan aneh dinamakan Taman Budaya, Art Center tetapi sepi dari aktivitas seni. Hanya ada patung-patung saja kalau tidak ada Pesta Kesenian Bali,” katanya.

Dalam sambutannya di depan civitas akademika ISI Denpasar, Mangku Pastika berpesan agar ISI Denpasar mampu Go International. Tidak hanya memenangkan persaingan dalam negeri, atau hanya menutupi kebutuhan berkesenian di daerah. ISI harus benar-benar bisa menjadi “menara air” (bukan menara gading), yang memberikan manfaat kesegaran, kesejukan, menghapuskan dahaga seluruh komponen seni, dalam meningkatkan kualitas sumber daya seni, dan kualitas kehidupan berkesenian secara menyeluruh. ISI harus dapat menjadi “Centre of Art and Science”. Dimana pola pembelajaran harus mencerminkan substansi hakikat dan manfaat berkesenian dalam hidup. Kajian ilmiah dalam bidang seni dan budaya harus terus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya. (SB-Rk).

 

Comments

comments