Mangku Pastika: Bali Post Mau Saya Mati

227

SULUHBALI.CO, Denpasar — Pada simakrama Gubernur Bali Made Mangku Pastika di Wantilan DPRD Bali, Sabtu (28/9) seorang warga bernama Lanang Sudira menanyakan pemberitaan di harian Bali Post dan group medianya, yang terus memojokan Mangku Pastika, “Saya terus ditanya di masyarakat, apa benar Pak Mangku mau menjual Bali seperti ditulis Bali Post. Saya jelaskan tidak. Tapi masyarakat terus dikompori oleh Bali Post. Karena itu saya bertanya langsung disini.”

Pada kesempatan ini Mangku Pastika menjawab bahwa bukan kali ini saja Bali Post dan group medianya menyudutan dirinya dengan berita berita yang ngawur, tidak akurat dan provokasi, “Kalau saya belum mati, berita berita dari Bali Post group tidak akan berhenti. Memang tujuannya supaya saya mati. “

Oleh karena itu sudah tidak ada upaya apapun yang perlu dilakukan, “Ngadu ke dewan pers tidak laku. Ngadu secara hukum, percuma saja. Jadi sederhananya, biarkan saja. Karena itu saya hanya minta doa dari seluruh rakyat Bali yang cinta kebenaran.”

Mantan Kapolda Bali ini menegaskan tidak ada satupun niat menjual Bali, “Dimana saya dinas, saya selalu konsen dengan Bali dan Hindu. Waktu masih letnan dua, saya prakasai bikin pura di kelapa dua, sekarang jadi pura besar di Bogor.  Pura  di Depok itu saya yang buat, dari ngurus tanahnya, bisa dicek. Saya juga turut menyelesaikan pura di Kupang  yang sudah terkatung katung 5 tahun.”

Mangku Pastika menjelaskan waktu dirinya jadi Kapolda Bali sempat dianggap Bali Sentris. Kenapa? Karena dari 9 Kapolres, enam orang Bali. Pejabat di Polda Bali juga hampir semuanya orang Bali. Ada hampir 2000 orang Bali jadi polisi saat saya jadi kapolda,  “Saya jadi Kapolda, saya mengukuhkan Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP), kapasitas saya apa  waktu itu? Karena waktu itu saya melihat ada potensi perpecahan dan konflik, akibat perbedaan-perbedaan antar desa desa pakraman.  Sejak itu baru ada majelis utama, majelis madya, majelis alit.”

Sebelumnya ada peristiwa bom Bali, “Saya mempertaruhkan segalanya dan mengambil resiko untuk Bali. Sekarang ada penyelenggaraan Miss World di Bali. Saya dihujat di Media sosial soal ini, bahkan patung saya dibakar di Jakarta.”

 

Tujuh Kali Kirim Utusan

Mangku Pastika merasa heran dengan pemilik media Bali Post, “Jadi memang saya tidak ngerti orang ini. Sampai 7 kali saya utus orang menanyakan salah saya apa? Tapi tidak pernah ada jawaban. Jadi saya menduga orang ini memang ingin saya mati.”

Diakui Mangku Pastika mewujudkan Bali Mandara ini perjuangan, “ Saya tidak menjual Bali sesen pun. Boleh diukur kecintaan saya tentang Bali. Tapi yang terpenting saya memikirkan masa depan Bali, saya tahu perkembangan hubungan global, regional , nasional. Saya pelajari, mau kemana dunia ini, kemana dunia ini?”

Mangku Pastika juga menjelaskan dirinya pernah mengirim Jero Bendesa dan dua orang pemangku Pura Besakih ke Kyoto, Jepang agar bisa belajar bagaimana memelihara pura agar tetap suci, bersih dan rapi, “Karena saya mau Besakih itu terus ditata dengan baik dan dipelihara dengan cara yang lebih bagus.”

Dalam simakrama dengan masyarakat ini hadir Wakil Gubernur Sudikerta, aggota DPRD Bali Ketut Suandi, Made Arjaya, Nyoman Parta dan Tutik Kusuma Wardani serta SKPD di lingkungan Pemprov Bali.(SB-iwan)

 

Comments

comments

Comments are closed.