Mabesikan Festival, Pendekatan Seni Mengatasi Isu Sosial

605

SULUH BALI, Denpasar – Mebesikan Festival yang diselenggarakan Search for Common Ground (SEARCH) dengan melibatkan seniman dan aktivis di Bali akan menggelar berbagai kesenian dalam mengatasi isu sosial di masyarakat.

Kegiatan yang akan dilaksanakan pada Sabtu 22 Oktober 2016 mendatang melibatkan 15 seniman dan 8 perwakilan organisasi kemasyarakatan di Bali bertempat di Desa Budaya Kertalangu, Kesiman, Denpasar.

Adapun agenda kegiatannya yakni Mejejaita, Workshop Batik, Film Screening “Terpasung di Pulau Sorga”, Workshop Plasticology, Diskusi & Screening Video Project “Bersama yang Beda”, Talkshow “Bringing Art Back to Earth : Environmental Philosophy & Art”, Diskusi & Film Screening ” Air dan Kehidupan”.

Selain itu juga menampilkan music Performance menampilkan Nonstress, Sandrayati Fay, Relung kaca, Antrabes, Emoni, Ayu Laksmi & Svara Semesta, Jasmine Okubo, Rio Sidik, Bona Alit, Gung De Rahma, Portandin, Lily of The Valley dan Navicula.

Michelle Winowatan, Program Officer Search for Common Ground (SEARCH) mengungkapkan dalam kegiatan Mebesikan sebagai fasilitator bagi seniman dan organisasi sosial di Bali dalam melakukan pendekatan mengatasi isu sosial di Bali.

“Kami sebagai fasilitator, tujuan kami teman-teman seniman dan organisasi lokal disini bisa untuk menggunakan pendekatan yang lebih inklusif atau lebih bekerjasama,” ungkapnya pada Konferensi Pers Mebesikan Festival di Desa Budaya Kertalangu, Denpasar, Rabu (19/10/2016).

Winowatan menekankan, kegiatan Mebesikan dapat dijadikan sebagai kolaborasi dengan bersama-sama untuk mewujudkan perubahan sosial di masyarakat.

“Pada umumnya kita melihat masalah ada lawan ada kawan itu mental yang kita sebut sebagai adversarial, kami ingin mengubah itu lebih kolaboratif.  Kita melihat orang tidak sebagai kawan atau lawan tetapi semuanya sebagai mitra untuk membawa perubahan,” ujarnya. (SB-Skb)

Comments

comments