Mabes Polri Perkuat Digital Forensik Stikom Bali

107
AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar, M.Sc., CHFI., CEI., ECIH (tengah), bersama para Dosen dan Mahasiswa STIKOM Bali

SULUH BALI, Denpasar — Mabes Polri memperkuat Tim Digital Forensik dan Investigasi Kejahatan Siber Stikom Bali melalui pelatihan peningkatan kompetensi para dosen dan mahasiswa yang digelar di kampus setempat.

“Penggunaan teknologi informasi (TI) saat ini semakin luas dan semakin marak pula kejahatan yang melibatkan TI. Untuk itu kita perlu memperdalam dan meningkatkan keahlian di bidang ‘Digital Forensic’,” kata Ketua Digital Forensic Analyst Team (DFAT) Puslabfor Bareskrim Mabes Polri, Ajun Komisaris Besar Polisi Muhammad Nuh Al-Azhar usai memberikan seminar di kampus setempat di Denpasar, Jumat (29/4/2016).

Dalam seminar dan pelatihan tersebut, Muhammad Nuh memaparkan materi tentang seluk beluk Digital Forensic, mulai dari prinsip-prinsip yang harus dipenuhi dalam dunia tersebut hingga penggunaan peralatan dalam proses investigasi forensik digital.

Menurut dia, tindakan kejahatan digital saat ini yang semakin marak menuntut diperlukan tenaga yang ahli dalam menelaah “Digital Forensic” dalam rangka investigasi kejahatan digital.

“Sehingga kami bisa melakukan investigasi ketika terjadinya sebuah kejahatan siber dan juga dalam rangka pertahanan dari serangan-serangan siber yang mungkin terjadi,” ucapnya.

Sejak tahun 2012, Stikom Bali sudah berprestasi di bidang “Digital Forensic and Cyber Crime Investigation”, dengan tiga kali berturut-turut tampil sebagai juara nasional bidang Digital Forensic di ajang Indonesian Cyber Army (ICA) yang merupakan kompetisi bergengsi para tentara siber di Indonesia.

Pelatihan yang diikuti oleh para dosen dan mahasiswa penggiat Digital Forensic di kampus itu digelar di Laboratorium Mobile Technology yang berlangsung melalui diskusi.

Ketua Tim Digital Forensic and Cyber Crime Investigation yang juga dosen di kampus setempat, I Wayan Ardi Yasa mengatakan dirinya sudah lama menantikan pelatihan yang sangat bermanfaat itu.

Apalagi, lanjut dia, Stikom Bali beberapa kali menjadi saksi ahli dalam penanganan kasus kejahatan siber di Bali dan Nusa Tenggara.

“Saya sangat senang dan antusias pada pelatihan ini, karena kita bisa mendengarkan dan mendapatkan ilmu dari seseorang yang memang ahli di bidang ‘Digital Forensic’ dan berbagi pengalaman dari ahli sangat kami butuhkan untuk meningkatkan kompetensi di bidang ‘Digital Forensic’,” ucap Ardi Yasa. (SB-humas.Stikom)

Comments

comments