LOLOT Band | Kritik Sosial Lewat Album Baru “Manusa Raksasa”

450
Lolot Band saat jumpa pers terkait album baru "Manusa Raksasa". |foto-facebook|

SULUH BALI, Denpasar – Album Manusa raksasa adalah album yang ke delapan, di mana album ini lebih banyak membahas tentang kritik sosial & gambaran fenomena kehidupan yang terjadi pada saat ini, dengan harapan di mana nantinya bisa menjadi sebuah pemikiran dan masukan bagi masyarakat terutama generasi mudanya untuk bisa lebih bijak menyikapi setiap permasalahan yang kita temui dalam perjalanan memasuki jaman Kaliuga yang mungkin terkadang membingungkan dan juga tentang kebutaan para penguasa yang di butakan oleh jabatan yang pada ahkirnya menimbulkan keserakahan yang kita sebut dengan MANUSA RAKSASA.

Di album ini banyak kita ceritakan tentang pesan moral , kepedulian dan tak luput juga dari kisah percintaan yang lebih dominan kita ambil dari sisi yang berbeda atau tentang kekecewaan dan kehiklasan menerima sebuah kenyataan.

Di lihat dari cover album kta tampilkan seorang wanita sexi bertanduk terlihat di sebuah jalan raya dengan latar belakang gedung-gedung menjulang tinggi, mungkin ada pertanyaan kenapa tidak kita tampilkan raksasa biar sesuai dengan judul albumnya, itu karena kita melihat dari sisi manusanya, yang membuat sebagian manusa menjadi raksasa adalah adanya kekuasaan, uang dan ketidakpuasan atau nafsu, dan wanita bisa menjadi salah satu godaan terbesar sebagai pemuas nafsu dari sang raksasa yang tak pernah puas akan apa yg sudah di capainya.

Latar belakang gedung pada cover menggambarkan hilangnya sebagian keberadaban budaya lokal yang terkikis oleh masuknya budaya – budaya dari luar.

Untuk Hit Single kalau di dengar secara keseluruhan masing – masing lagu memiliki karakater yang hampir sama kuatnya baik dari arransemen, lirik atau pun alirannya, jadi mungkin untuk awal yang kita jadikan hits yaitu lagu yang berjudul Handphone Usak karena sangat mengena pada jamannya saat ini.

Video Clip yang akan kita garap untuk awal yaitu lagu yang berjudul NGADOL GUMI , di mana lagu ini menceritakan tentang kerinduan akan suasana pedesaan yang ramah, hijau dan sederhan yang penuh dengan kebahagian dan ketetnangan yang sangat bertolak belakng dengan keadaan yang sekarang, namanya tetap desa tapi kehidupan sudah menjadi perkotaan dengan banyaknya gedung – gedung bertingkan , perumahan dan pemukiman kumuh. (SB*)

Comments

comments