Liputan Ngaben di Puri Ubud

81

Pelebon Cok Istri Tjandrawati di Puri Ubud

 

SULUHBALI.CO, Gianyar — Upacara Pelebon merupakan bentuk penghormatan dari keluarga dan masyarakat setempat terhadap mendiang. Upacara yang dikenal secara umum sebagai ngaben ini merupakan serangkaian prosesi yang berlangsung sejak seorang meninggal sampai prosesi penghanyutan abu jenazah ke laut. Dan tujuan dari upacara Pelebon ini adalah untuk mengembalikan unsur-unsur Panca Maha Butha ( lima unsur alam semesta yang membentuk kehidupan ) yang ada di dalam diri manusia.

Pada tanggal 1 November 2013, bertepatan dengan hari raya Penampahan Kuningan, telah dilaksanakan upacara Pelebon untuk Tjokorda Istri Sri Tjandrawati atau yang lebih dikenal dengan nama Cok Sri Bulan, Ia adalah istri dari Tjokorda Gde Putra Sukawati, Penglingsir atau pemimpin keluarga besar Puri Ubud.

Cok Sri Bulan wafat pada usia 59 tahun pada Senin 14/10/13 di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, setelah mendapatkan perawatan selama beberapa bulan karena sakit. Jenazahnya tiba di Puri Saren Ubud, pada selasa 15/10/13 dan disemayamkan sampai saat Pelaksanaan Upacara Pelebon Jumat 01/11/13.

 

Dipadati Turis Mancanegara

 

Puncak Karya dari Rangkaian Upacara Pelebon ini dilaksanakan dari tengah hari, namun wisatawan yang tertarik telah memadati daerah sekitar Puri Ubud dari pagi hari, mulai dari sekedar memotret ataupun merekam berlangsungnya acara ini dari awal sampai selesai.

Karena saking banyaknya turis yang berjejal dan memenuhi perempatan di sekitar Puri, pecalang setempat pun sampai kewalahan dan meminta turis – turis ini untuk mundur dan menyebar, karena kelompok pengungsung Bade, semacam angkutan yang berbentuk menara untuk membawa jenasah, dan lembu yang digunakan untuk membakar jenasah akan bergerak menuju Setra Pura Dalem Peliatan.

Meriahnya upacara ini sangat terlihat ketika Bade dan Lembu di arak menuju Pura Dalem Peliatan. Ribuan turis dan masyarakat sekitar berjalan bersama dan memenuhi jalan utama kota Ubud, sehingga terlihat seperti lautan manusia saat di tengah terik matahari siang itu.

Setelah diarak dan sampai di Pura Dalem Peliatan, sekitar pukul 2 siang, jenazah dipindahkan dari bade menuju ke dalam lembu. Selanjutnya lembu serta jenazah yang ada di dalamnya dibakar hingga menjadi abu.

Setelah proses kremasi selesai, dilaksanakan upaca Nuduk Galih. Sisa – sisa tulang dan abunya dibersihkan dan diatur kembali di atas kain kasa seperti bentuk manusia lagi, baru setelahnya dihanyutkan ke laut, yaitu di pantai Matahari Terbit di Sanur.

Tokoh Puri Agung Ubud Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat setempat yang telah turut serta membantu kegiatan tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat dan beberapa kerabat dan sahabat yang telah hadir dan turut serta mendoakan kesuksesan pengabenan,” ujarnya.
Menurut dia, tradisi pelebon di Puri Ubud itu menggunakan “bade” bertingkat sembilan yang dikerjakan secara bergotong-royong oleh masyarakat sekitar.
Sedangkan patung lembu yang digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah tingginya mencapai 7,5 meter sebagai penghormatan terakhir terhadap almarhumah.

Menurut seorang warga yang www.suluhbali.co temui, Pak Made, mengatakan bahwa Pelebon kali ini beda dari Pelebon biasanya. Karena biasanya setelah seseorang itu meninggal 1 atau 2 bulan setelahnya barulah diadakan upacara Pelebon itu.

“Karena kematian beliau – ibu Cok Istri Bulan – sangat mendadak, dan 2 bulan lagi akan ada upacara piodalan di Pura Puseh Ubud, makanya ( rangkaian ) upacara Pelebonnya diadakan segera setelah beliau meninggal, supaya piodalan bulan Desember nanti tidak ada “kesebelan” dan Piodalannya berjalan lancar” ungkapnya. (SB-Puspita-Ant)

 

Comments

comments

Comments are closed.