Kuliner Bali “Lindung Mebase Kesuna Cekuh”

648
Lindung Mebase Kesuna Cekuh. |foto-rk|

SULUH BALI, Tabanan – Di pedesaan Bali banyak dijumpai varian kuliner yang bahannya berasal dari persawahan. Dulu masa sebelum intensifnya penyemprotan dengan pestisida, di areal persawahan banyak hidup dan berkembang seperti belut (lindung), kakul, buit-buit, belauk hingga capung yang biasa dimanfaatkan sebagai bahan lauk-pauk. Bahkan bahan tersebut dikatakan mengandung protein yang tinggi.

Lindung (belut) terutama sangat digemari karena rasanya yang enak dan gurih juga mudah mengolahnya. Bisa digoreng, dibuat tum, atau dijadikan olahan dalam bentuk yang disebut dengan tambusan. Bahkan yang paling simpel adalah dengan cara dipanggang kemudian disisit ditambah campuran minyak kelapa, cabai, garam dan daun kemangi (kecarum).

Tapi kini, beberapa pedagang masih ada menjajakan belut (lindung) yang siap saji dalam kemasan bungkus plastik. Lindung (belut) tersebut diolah dengan digoreng kemudian diberi bumbu (base) kesuna (bawang putih) dan cekuh (kencur). Bukan base (bumbu) genep. “Enak pak niki lindung mebase kesuna cekuh,” pedagang di pasar Tabanan menawarkan dagangannya.

Kemasan lindung mabase kesuna cekuh yang dibungkus plastik tersebut dibuat bervariasi. Ada yang ukuran sedang dan ada yang dibungkus dalam ukuran lebih besar. Yang sedang dibandrol dengan harga Rp 25 ribu sedangkan yang lebih besar Rp 35 ribu. Karena mebase kesuna cekuh dan dikemas dalam bungkus plastik, tentu ras gurih dan renyahnya tetap terjaga dan bisa awet disimpan. Jadi kalau rindu dan ingin menikmati olahan lindung yang gurih dan enak itu, tidak perlu lagi menyusuri sawah, cukup datang ke dalam pasar, dan itu ada di pasar dalam kota Tabanan. (SB-Rk)

Comments

comments