KRB Desak Polda Bali Tuntaskan Kasus Munarman

22
Komponen Rakyat Bali (KRB) saat mendatangi Polda Bali. (foto-rio)

SULUH BALI, Denpasar – Desak Polda Bali tuntaskan Kasus Munarman, Komponen Rakyat Bali (KRB) kembali mendatangi Mapolda Bali pada, Senin (15/5). Mereka mendesak Polda Bali agar segera tuntaskan kasus pencemaran terhadap pecalang Bali oleh Munarman yang juga adalah Jubir FPI saat beraudiensi di Kantor redaksi Kompas Tv beberapa waktu lalu. Ada pun kelompk yang datang ke Polda Bali yakni kelompok yang terdiri dari seluruh unsur Perguruan Sandhi Murti, unsur pecalang, Banser NU Bali, GP Ansor Bali, Patriot Garuda Nusantara (PGN), Asosiasi Pendeta Indonesia, Himpunan Advokat Muda Indonesia (HAMI), Gerakan Advokat Indonesia dan seluruh masyarakat lainnya.

Kelompok yang tergabung dalam aliansi KRB tersebut berjalan kaki dari samping GOR Ngurah Rai Bali dan bergerak menuju Mapolda Bali. Sesampainya di Mapolda, perwakilan KRB langsung menuju ke Direktorat Kriminal Khusus, tempat Munarman Cs diperiksa. Tiba di depan Mapolda Bali, para perwakilan KRB melakukan orasi yang pada intinya mendesak Polda Bali agar kasus pencemaran terhadap pecalang Bali oleh Munarman yang juga adalah Jubir FPI segera dituntaskan. Setelah orasi, perwakilan peserta aksi diterima langsung oleh Wakil Direktur Kriminal Khusus Polda Bali AKBP Rudi Setiawan bersama dengan para penyidik lainnya.

Hingga saat ini sudah ada 25 saksi yang diperiksa. Mereka terdiri dari 7 tokoh agama, 6 saksi ahli dan sisanya merupakan saksi pelapor, saksi fakta, dan saksi terlapor. Kedua tersangka yakni Munarman dan Ahmad Hasan diperiksa karena rekaman yang beredar di Youtube pada 16 Juni 2016. Setelah dilaporkan dan diperiksa maka keduanya ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya disangkakan dengan pasal 28 ayat 2 junto pasal 45 A UU RI nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan UU No 11 Tahun 2006 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik junto pasal 55 KHUP dan atau pasal 156 KUHP dengan ancaman penjara 6 tahun.

Saat dikonfirmasi, Kabid Humas Polda Bali AKBP Hengky Widjaja menjelaskan bahwa kedatangan KRB itu merupakan bentuk dukungan terhadap penuntasan kasus pencemaran terhadap pecalang Bali. “Kami menjamin jika kasus itu tidak akan dihentikan, tidak ada SP3. Kasusnya tetap diproses. Kendala yang ada saat ini adalah belum tertangkapnya Ahmad Hasan yang mengupload ke youtube soal keterangan Munarman saat berada di Kompas TV,” ujarnya. Menurutnya, Ahamad Hasan sudah ditetapkan sebagai DPO, pada 28 Februari lalu tetapi sampai sekarang belum ditangkap. Polda Bali sudah berkoordinasi dengan Polresta Kota Malang untuk mendeteksi keberadaan Ahmad Hasan.

“Kita percaya dengan sesama anggota Polri di Kota Malang. Hasilnya, mereka sudah melakukan sidak ke rumah Ahmad Hasan dan ternyata yang bersangkutan tidak berada di rumah. Keluarganya sudah bertemu dan mengakui tidak mengetahui keberadaan Ahmad Hasan,” ujarnya. Menurutnya, penyidik Polda Bali sangat percaya dengan anggota Polri yang ada di Kota Malang karena sesama anggota Polri tidak mungkin ada kerja sama untuk menyembunyikan Ahmad Hasan.

Hengky menepis anggapan bahwa Polda Bali tidak bekerja untuk menuntaskan kasus Munarman. “Pelaku utamanya adalah Ahmad Hasan. Kalau Ahmad Hasan belum ditangkap, bagaimana mungkin penyidik bisa menahan Munarman,” ujarnya.

Penjelasan Kabid Humas Polda Bali ini rupanya belum memuaskan keinginan publik Bali. Perwakilan KRB menduga jika Ahmad Hasan sengaja disembunyikan oleh Munarman agar kasusnya tidak bisa diselesaikan. Atau ada kemungkinan lain jika ada pihak-pihak yang sengaja menghilangkan jejak Ahmad Hasan untuk menghindari Munarman dari jeratan hukum. “Kami ingin agar Munarman dan Ahmad Hasan agar dicekal sehingga tidak bisa lari keluar negeri, sehingga prosesnya akan lebih mudah,” ujar Gus Hadi dari Patriot Garuda Nusantara. Ia juga meminta agar pihak kepolisian memberitahu alamat Ahmad Hasan yang di Malang, biar pihaknya bisa tangkap sendiri dan membawanya ke Bali. Namun permintaan tersebut tidak dilayani penyidik.

Terkait dengan permintaan penahanan, menurut Hengky, tinggal menunggu pemeriksaan Ahmad Hasan karena pelaku utamanya adalah penyebar video pencemaran tersebut. Bila Ahmda Hasan sudah tertangkap maka tidak berapa lama lagi keduanya dipastikan akan ditahan bila memenuhi unsur-unsur hukum yang ada. “Untuk permintaan pencekalan, penyidik akan melakukan evaluasai, dan menggelar perkara kembali. Bila memenuhi unsur-unsur tersebut maka akan dicekal nanti. Namun bila tidak memenuhi unsur-unsur pencekalan maka pencekalan tidak diperlukan,” ujarnya. (SB-rio)

Comments

comments