Kopi Kintamani Bali Raih Peringkat Kedua Dunia

159

SULUH BALI, Denpasar – Siapa sangka jika kopi asal Kintamani Bangli, Bali ternyata saat ini menduduki peringkat kedua kopi terbaik dunia. Sementara untuk dalam Negeri ia kopi Kintamani, Bali ini mendapat peringkat pertama. Hal tersebut disampaikan oleh instruktur barista dunia Hendarto Setyobudi saat ditemui Mengani, Kintamani Bali pada, Selasa (5/9)

Menurutnya, sangking enaknya kopi dari Pabrik Pengolahan Kopi Arabika Mengani dari PT Java Qahwa Indonesia di Desa Mengani, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli langsung diminta untuk disajikan di Istana Negara pada tanggal 17 Agustus 2017 lalu. Kopi asal Mengani Kintamani ini disajikan oleh 13 barista asal Bali yang merupakan murid Hendarto ini kepada sekitar 700 tamu negara mulai dari presiden, wakil presiden, para menteri, para duta besar, para kepala staf dan pejabat setingkat kepala negara lainnya.

Hendarto mengisahkan ada suka duka saat timinya menyajikan kopi di Istana Negara dan Istana Merdeka. Kepercayaan untuk meyajikan kopi di Istana Negara berawal dari pertemanan dengan Teten Masduki. Teten datang dan menginap di Mengani, Bangli. “Melihat proses yang alami, bersih, kualitas tinggi, Teten berbicara dengan Presiden Jokowi agar kopi Kintamani Bangli bisa melayani tamu negara di acara Istana Negara,” ujarnya.

Saat melayani Istana, ia mengaku, sempat terjadi perdebatan dengan pihak Istana karena terjadi perbedaan konsep. Pihak Istana mengira jika para barista dari Bali tersebut menyajikan kopi secara biasa, memutar kopi dan disajikan kepada para tamu. “Makanya pihak Istana hanya membolehkan membawa satu mesin. Padahal kami membawa 4 mesin. Perdebatan itu terjadi. Dan akhirnya kami diizinkan menggunakan dua mesin,” ujarnya.

Sekalipun pernah menjamu Jokowi dan tamu negara lainnya, Hendarto tetap memberikan kritk yang tajam terhadap produksi kopi di Bali dan Indonesia. Menurutnya, untuk sementara pabrik kopi terbesar di Bali yakni di Mangani sejak tahun 1992. “Kapan Bali mulai menanam kopi tidak pernah ada yang tahu. Kalau Jawa 1696. Memang ada catatan Bali 1825, dimana Bali tercatat sebagai kopi Bali diekspor keluar negeri. Pada awal kemerdekaan masih ada 13 ribu hektar. Tahun 1970, tinggal 3 ribu hektar. Lalu oleh Soeharto kembali digenjot menjadi hampir 9 ribu hektar,” ujarnya.

Saat itu pembeli utama adalah Jepang. Pak Harto memiliki ide, untuk mendirikan pabrik yang berkualitas, dananya dari BI. Pihak pabrik sudah banyak bertemu orang asing, dan mereka mengatakan bahwa ini adalah proses pengolahan kopi yang paling bersih di dunia, terbaik dunia.

Pabrik ini memang berfungsi menjadi lokomotif ekonomi di tiga kabupaten, Bangli, Buleleng dan Badung. “Namun perkebunan kopi dibiarkan begitu saja, hasilnya menurun setiap tahun. Pupuan menurun panen 50 persen. Saat ini terjadi penurunan 55 persen produksi kopi, tetapi realitasnya di atas itu. Indonesia akan mengalami gagal panen, dan saat ini bukan gagal tetapi bencana. Pemerintah telah berupaya keras, tetapi sistemmnya yang kurang tepat,” ujarnya. Ia mengamati, saat ini petani kopi di Bali tidak serius menggarap kopi. Ia mengeritik anggapan kalau petani kopi itu miskin. “Petani kopi tidak pernah miskin, hanya saja mereka kurang bekerja serius,” ujarnya.

Menurutnya, bila petani ikuti petunjuk untuk menanam dan merawat secara benar, maka petani kopi sesungguhnya menjadi kaya. Salah satunya adalah memangkas secara teratur pasca panen.

Ada beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan oleh para petani kopi. Pertama, dalam satu hektar, idealnya ditanam 2 ribu pohon kopi. Namun yang terjadi di Bali, dalam satu hektar hanya ditanam 8 ratus pohon atau lebih. Ini tidak maksimal dan hasilnya atau produksinya menurun. Kedua, lakukanlah pemangkasan secara teratur pasca panen. Ini untuk menangkal anomali cuaca dan seterusnya. “Keluhan selama ini kenapa produksi menurun karena cuaca, itu bohong besar. Semua orang mengalami itu,” ujarnya.

Bila petani melakukan hal ini, maka minimal perpohon menghasilkan 5 kilo kopi mentah. Itu minimal, karena bisa sampai 8 kilo perpohon. Jadi kalau ada 2 ribu pohon perhektar, maka minimal perpetani menghasilkan minimal 10 sampai 12 ton. Bila satu kilo kopi mentah saja harganya Rp 4 ribu perkilo, maka petani bisa menghasilkan Rp 48 juta permusim. Kalau dibagi 12 bulan maka perbula menghasilkan Rp 4 juta perbulan. Ini cukup untuk petani. “Itulah sebabnya, kami saat ini menyiapkan 500 ribu bibit kopi untuk dibagikan kepada masyarakat yang mau menanam kopi,” ujarnya. (SB-Rio)

Comments

comments