Konten Media Sosial Belum Tentu Berita

64

Ketua PWI Bali Dwikora Putra. |foto-sem|

 

SULUH BALI, Denpasar – Berkembangnya informasi di media sosial dalam menyajikan berbagai informasi terkini seakan telah mengaburkan kebenaran-kebenaran dari sebuah informasi. Simpang siurnya informasi tentang sebuah fakta di lapangan tak pelak berakibat pada keresahan di masyarakat.

Menanggapi kebebasan informasi sehingga  seringnya muncul informasi palsu di media sosial Ketua PWI Bali, Dwikora Putra menjelaskan bahwa antara karya jurnalitik dan media sosial memiliki perbedaan yang sangat mendasar. “Antara jurnalistik dan media sosial adalah dua hal yang berbeda,” terangnya pada Diskusi terbuka bertajuk “Seberapa Tahannya Pancasila di Media Sosial”, (26/8/2015).

Ia juga menyebut meskipun media sosial merupakan salah sumber informasi, namun belum tentu konten-konten yang dimuat dimedia sosial merupakan hasil karya jurnalistik (berita benar).

“Belum tentu apa yang terjadi atau yang ada di media sosial adalah karya jurnalistik,” tegasnya.

Dwikora Putra memberikan gambaran tentang sebuah karya jurnalistik yang merupakan  sebuah informasi yang disajikan dengan  ketentuan yang jelas sesuai dengan prosedur pemberitaan (jurnalistik) berbeda dengan media soisial yang bebas tanpa ketentuan yang jelas.

“Karya-karya jurnalistik disebut  dengan berita, karya foto, atau karya  karikatur, ulasan, opini dan sebagainya itu jelas punya koridor-koridor tertentu,” terangnya.

Sebagai Ketua Persatuan Wartawan (PWI) ia pun menjelaskan bahwa kalangan pers tidak bisa secara sembaranagan dalam memnyebarkan atau mengeluarkan sebuah berita di masyrakat.  Hal ini dikarenakan media baik cetak, ektronik dan online berada dibawah peraturan perundang-undangan.

“Kalau kami dikalangan pers atau kalangan media massa baik media elektronik ataupun media online  itu kita tetap punya payung yang jelas yaitu kode etik jurnalistik yang berpedoman pada UU tentang Pers,” tegas Dwikora.

Oleh karena itu, ia selalu menghimbau kepada kalangan pers untuk memanfaatkan informasi media sosial secara bijak, meski  media sosial memiliki akses yang cepat namun kalangan pers juga harus mencari kebenarannya juga di lapangan.

“Teman-teman kalanganan pers perlu mewaspadai informasi di media sosial, oleh karena itulah kami menekankan harus adanya kroscek,”  harapnya. (SB-Su)

Comments

comments