Konser 100 Tahun Gong Kebyar

204
Gong dengan tema Kasus 3 oleh I Wayan Sudirana. |foto-raka|

Gong dengan tema Kasus 3 oleh I Wayan Sudirana. |foto-raka|

SULUHBALI.CO, Gianyar – Konser musik gamelan baru (A New Music for Gamelan) yang bertajuk “A Tribute To Gong Kebyar”, digelar Sabtu 17 Mei 2014, di Bentara Budaya Bali, Ketewel. Tiga orang komposer kawakan Bali yang menampilkan karya tersebut adalah I Wayan Gde Yudane (Sekaa Gamelan Wrdhi Cwaram), Dewa Alit (Sekaa Gamelan Salukat), I Wayan Sudirana (Sanggar Cenik Wayah).

Konser tersebut merupakan rangkaian dari festival atau perayaan satu abad keberadaan Gamelan Gong Kebyar, yang diawali dari Bentara Budaya Bali, kemudian berlanjut di berbagai venue, antara lain di sejumlah tempat di Ubud, termasuk Museum Puri Lukisan. Yang berlangsung dari bulan Mei hingga November 2014.

Festival ini, selain ditandai konser atau pertunjukan karya-karya monumental (seperti Kebyar Legong, Palawakya, Kebyar Pengeleb, Kebyar Ding Sempati, Jaya Warsa dll), juga disertai diskusi atau seminar yang membahas keberadaan dan perkembangan Gong Kebyar, latar sejarah dan kemungkinannya di masa depan.

Gamelan dengan tema "Water 6 Ephameral, Water 5 Spring" oleh I Wayan Gde Yudane. |foto-raka|
Gamelan dengan tema “Water 6 Ephameral, Water 5 Spring” oleh I Wayan Gde Yudane. |foto-raka|

“Yang terpenting yang saya harapkan adalah respon atau kritik dan saran tentang karya saya. Karya yang saya yang bertajuk “Kasus Tiga” dari pengertiannya kasus itu adalah sebuah permasalahan yang terjadi, idenya sebuah  kontras, kontradiksi yang saya ingin sampaikan lewat bahasa musik. Jadi implementasinya saya mencoba membuat  jalinan dari oktaf yang berbeda oktaf paling randah dan 2 oktaf yang lebih tinggi dari awal sampai akhir. Itu merupakan dasar juga sistem ritme dari seluruh komposisi itu didasarkan atas hitungan matematika yang pasti. Jadi tidak ada yang sifatnya yang mengira-ngira pada saat penuangannya. Dari awal sebelum karya itu saya buat saya sudah tau bentuk global dari yang saya inginkan, ” ungkap  I Wayan Sudirana tentang karyanya. “Jadi semua harmoni berdasarkan 3 nada,” tambahnya.

Acara konser musik gamelan baru saat itu dilakukan di 2 tempat yang berbeda, yakni di luar ruangan atau panggung terbuka dan digelar di dalam ruangan Bentara Budaya Bali. Para pengunjung yang datang disamping para tokoh seni, peminat seni, seniman, komposer, kalangan akademis, mahasiswa, juga kalangan media dan para wisatawan yang menaruh perhatian yang besar terhadap gamelan Bali. Termasuk untuk mengenang 100 tahun Gong Kebyar yang lahir dari semangat kebebasan berkreasi di Bali utara. (SB-Raka).

Comments

comments

Comments are closed.