Komunitas Nitirupa Tuangkan Kegelisahan Lingkungan Dalam Karya

83

SULUH BALI, Denpasar – Menyikapi kerusakan alam dan peradaban masa depan lingkungan, para seniman-seniman yang tergabung dalam komunitas Nitirupa menggelar pameran seni yang bertajuk Niti Bumi di Bentara Budaya. Dimana, karya – karya para seniman tersebut secara bebas mengusung problematika lingkungan dan sektor zonasi mulai rusak.

Niti rupa sendiri merupakan kelompok seniman yang mulai dibentuk pada awal 2016 lalu yang berbadan hukum dan bertujuan untuk memajukan kesenian Bali khususnya dalam bidang seni rupa. Sebanyak 12 seniman diantaranya Wayan Redika, Made Wiradana, Made Supena, Loka Suara, Teja Astawa, Imam Nurofiq, Galung Wiratmaja, Nyoman Sujana, Kenyem, Made Gunawan, Uuk Paramita, I Putu Bambang Juliarta, dan Pande Alit Wijaya Suta.

Secara bebas mereka mengusung problematika lingkungan seperti Galian C, tata ruang, perambahan hutan serta aling fungsi lahan, ketidak harmonisan skala-niskala hingga isu terkini tentang reklamasi yang semuanya akan dituangkan dalam karya 24 karya berbentuk 2 dan 3 dimensi.

“Selain mendorong para perupa untuk berkarya, kami juga ingin mendorong teman-teman yang telah lama berjuang untuk lingkungan sekaligus segala kebijakan para pemangku kepentingan untuk serius menangani lingkungan untuk generasi yang akan datang,” ungkap Wayan Redika, selaku Koordinator Komunitas Niti Rupa, Kamis (02/06/2016) di Kubu Kopi, Denpasar.

Sementara itu, Kurator I Wayan Seriyoga Patra mengatakan interprestasi atas judul pameran Nitibumi berlandaskan pada refleksi dan kondisi bumi tempat manusia dan berbagai entitas kehidupan. Persoalan alam berupa kerusakan lingkungan, bencana yang tidak dapat dilepaskan dari ulah, perilaku, ambisi serta keserakahan manusia.

Komunitas Nitirupa menerjemahkan kegelisahan terhadap persoalan alam dan lingkungan itu melalui karya seni rupa. Mereka akan membuat tafsir terhadap persoalan–persoalan terkait  tema melalui persepsinya masing-masing yang diwujudkan dalam bentuk interprestasi rupa. “Para seniman bersiasat melalui ekplorasi rupa dengan memanfaatkan elemen-elemen yang diambil dari realitas sekitar diolah secara bebas,” ungkapnya.

Yoga menambahkan karya-karya dalam pameran tersebut nantinya, lebih membahas dan pertanyaan bagaimana seniman mengungkapkan ide dan pemikirannya mengenai tema dalam wujud seni rupa. Dalam proses perwujudan tersebut seniman sesungguhnya tengah mengupayakan melalui langkah startegis yang berdimensi politis.

“Politis representasi yang diupayakan para seniman dalam bentuk representasi karya yang memiliki tujuan yakni membagikan penghayatan subjektif dari pandangan dunianya kepada  subjek yang lain. Saya berharap melalui pameran ini bisa menyentuh khalayak luas. Setidaknya karya-karya ini dapat menumbuhkan harapan bersama yang diawali dari mata, kemudian menyentuh rasa dan pada akhirnya menyentuh logika pikiran,” tutupnya. (SB-ijo)

Comments

comments