Kisah ANTRABEZ | “Liturgi di Balik Jeruji”

46
Antrabes dalam acara Lingkara Photocoffee.

SULUH BALI, Denpasar -Di dalam penjara, orang bisa kehilangan akal. Tetapi tidak dengan ANTRABEZ, band yang digawangi oleh narapidana Lapas Kerobokan ini, tidak pernah kehilangan akal untuk selalu menumbuhkan minat dan kreativitas mereka dalam bermusik, meski raga mereka terkurung di dalam jeruji besi. Kesedihan, penderitaan, dan kegelisahan tidak selamanya dapat membunuh kreativitas mereka, justru sebaliknya, ketiga hal itu membuat mereka menjadi luar biasa kreatif, dan melahirkan karya-karya musik yang apik.

Antrabez adalah sebuah band bentukan yang terdiri dari narapidana Lapas Kerobokan. Baru-baru ini mereka mencelikkan panggung musik dengan munculnya album baru milik mereka yang bertajuk “Saatnya Berubah”. Album yang merangkum enam lagu ini menjadi bukti bahwa dengan segala keterbatasan yang dialami oleh narapidana ini, tidaklah menyurutkan langkah mereka untuk terus berkarya, terbukti, karya-karya mereka ini mampu mengalun lantang menembus batas tembok-tembok pucat dan tiang terali, serta jeruji besi penjara.

Antrabez adalah singkatan dari Anak Terali Besi, mereka adalah Octav (bass), Riva (gitaris), Daus (drum), Ronald (keyboard), Febri (vokalis). Kepala Lapas Kerobokan, Tonny Nainggolan, mengatakan bahwa nama Antrabez bukan hanya sekedar nama group musik saja.

“Antrabez juga nama komunitas warga binaan dan mitra kami yaitu rekanan kami yang mementori dan sering berbagi ilmu dan keahliannya kepada warga binaan kami, seperti Erick EST dalam pembuatan video klip, dan Anom Darsana dari Antida Recording Studio.” Katanya ketika menyampaikan sambutan dalam acara Lingkara Photocoffee Community pada 16 Maret 2017.

Erick EST selaku movie maker yang membuat video klip Antrabez ini menggungkapkan banyak kesan terdalam yang ia rasakan. Di dalam Lapas, kata dia, banyak narapidana yang mencoba untuk terus mengembangkan bakat mereka dan menjadikan jeruji penjara sebagai pintu awal dalam memasuki lubang kreativitas, tentunya di bawah pembinaan dari Kepala Lapas Kerobokan. “Di dalam Lapas terdapat sebuah bengker (baca: bengkel kerja). Di sana mereka banyak yang melukis, menyablon, belajar Bahasa Inggis serta kegiatan-kegiatan positif lainnya.” Katanya.

Memang benar, malam itu, Lingkara Photography Community penuh disesaki oleh masyarakat umum yang ingin menyaksikan bagaimana aksi panggung Antrabez ini. Antrabez pun seolah tidak ingin mengecewakan hadiri yang datang, mereka pun memberikan penampilan yang apik dan menarik. Selain itu, pada acara Lingkara Photocoffee yang merupakan acara rutin yang digelar sebulan dua kali oleh Lingkara Photography Community ini, Antrabez juga saling memberikan motivasi kepada hadirin yang hadir agar dapat saling menginspirasi dan terinspirasi dalam berkarya.

Pengurus Lingkara Photography Community, Yan Palapa, juga mengungkapkan tentang kilas balik Lingkara Photocoffee ini dibuat. “Agenda ini awalnya sambil minum kopi, dan berbincang tentang foto. Lalu dari situ berkembang menjadi banyak obrolan untuk berbagi pengalaman yang tidak hanya mengacu pada fotografer saja, tetapi juga mengakomodir hal-hal yang di luar dari wilayah fotografi sebagai sumber kami cari ilmu.”

Yan Palapa menambahkan bahwa memang sebagai komunitas ia dan rekan-rekan lainnya harus saling berbagi. “Kami menyesuaikan dan kami saling mendukung. Walaupun tidak dalam satu bidang yang sama, tetapi ajang pertemuan berbagi ide ini, semoga bisa bermanfaat bagi banyak orang.” Lirihnya.

Antrabez tampil memukau dalam kesederhanaan mereka pada hari Kamis, 16 Maret 2017 pukul 19.00 Wita di Jalan Merdeka IV No. 2 Renon Denpasar. Mereka tetap berpikir besar, meski di ruangan sempit penjara. Dengan berpikir besar, Antrabez bangkit melampaui situasi yang ada, dan mulai menciptakan mimpi dan masa depan yang cemerlang, yang kini dan seterusnya akan mereka pilih: tetap berkreativitas, meski raga terpenjara. (SB-*)

Comments

comments