Pencarian korban yang tenggelam dan hanyut di sungai

SULUH BALI, Belakangan kita sering mendapat informasi tentang kejadian warga yang meninggal dengan melakukan bunuh diri, maupun meninggal karena kecelakaan di jalan. Bahkan kejadian-kejadian tersebut banyak menimpa kalangan usia muda atau remaja.

Kecelakaan yang merenggut nyawa pelajar atau mahasiswa begitu sering terjadi. Ada kejadian, informasinya pun sangat cepat menyebar di media sosial.  Belum hilang ungkapan kesediahan, bela sungkawa maupaun rasa kehilangan, muncul lagi kejadian serupa di tempat lain. Jalan raya seakan telah menjadi medan yang mengerikan, yang kian sering merenggut nyawa dengan tragis.

Begitupun kejadian bunuh diri, kian sering terjadi di Bali. Sebuah media lokal menyebut, di Kabupaten Bangli saja, dalam kurun waktu bulan Januari hingga Maret 2018 ini sudah terjadi 14 kasus bunuh diri. Bukankah sangat miris kita menyaksikan keadaan ini ? Warga begitu nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Ada apa ? Lagipula, dalam banyak kasus, jangankan masyarakat, keluarga pelaku pun sering tidak memahami dan tahu yang menjadi latar belakang mengapa mereka begitu nekat mengakhiri hidupnya tersebut.

Dalam banyak kejadian kasus bunuh diri, si pelaku bunuh diri sebelumnya tidak menampakkan gelagat atau tindakan yang mencurigakan. Malah sepertinya biasa-biasa saja, seakan tidak ada masalah. Mereka berangkat sekolah, melakukan aktivitas seperti biasa. Namun beberapa saat kemudian telah ditemukan dalam kondisi terbujur kaku tak bernyawa, karena bunuh diri. Seperti kajadian yang menimpa seorang remaja di Desa Pesagi, Penebel tempo hari. Sesaat sebelumnya pelaku bahkan sempat mencari atau “ngulungin” buah durian yang saat itu lagi musim di sebelah rumahnya.

“Dia sering saya ajak ngobrol. Karena saya dekat dengan dia. Terakhir, beberapa hari yang lalu saya juga ngobrol, tapi dia tidak ada cerita kalau dia lagi ada masalah. Makanya sangat kaget begitu mendengar dia seperti ini,” ungkap seorang ibu ketika itu ikut mencari-cari korban yang hilang itu, namun akhirnya ditemukan di sungai dalam kondisi tak bernyawa. Keras dugaan korban mengakhiri hidupnya atau bunuh diri dengan cara menenggak racun pembasmi rumput lalu hanyut di sungai.

Begitu pula kejadian siswi yang meninggal bunuh diri di Susut, Bangli kemarin ini. Sebelum ditemukan meninggal gantung diri sore hari, pagi harinya itu dia pergi sekolah seperti biasa. Juga tidak ada yang tahu masalah yang tengah dia hadapi. Siang harinya siswi ini ditemukan sudah tidak bernyawa lagi karena melakukan tindakan gantung diri. Begitu cepat, tanpa sempat kita tahu sebab musababnya.

Meninggal tidak wajar itu, “mati ngulah pati” dan “mati salah pati” semakin sering terjadi. Ada apa ? Semua pihak sudah seharusnya dengan segera dan cepat bertindak untuk mengantisipasi guna mencegah agar kejadian-kejadian serupa tidak terulang kembali. Adakah kita telah rapuh dan lemah menjalani hidup ini ? Sekaligus juga lemah menjaga anugerah yang diberikan, berupa anak dan keluarga ? Mari semua kita kembali, kembali untuk menjaga hal paling berharga yang kita miliki, yakni hidup ini.

Bukan saling menyalahkan namun bersama-sama mencari solusi untuk kebaikan bersama. Kita semua akan bersalah bila “membiarkan” hal ini terus dan terus berulang terjadi. Jangan sampai (semoga saja tidak),  kematian yang tidak wajar “mati ngulah pati” dan “mati salah pati” itu menjadi tindakan atau kejadian yang “wajar”. Jangan sampai. (SB-Rk)

Comments

comments