Ketut “Gogonk” Pramana Bukukan Resep Kuliner Warisan Leluhur Bali

449

I Ketut Pramana (kanan) atau Bli Go Gonk. |foto-raka|

 

SULUH BALI, Denpasar – Usaha makanan dan minuman adalah usaha sepanjang jaman. Begitu pandangan sekaligus kesimpulan yang tumbuh di benak I Ketut Pramana. Itupun setelah lama dirinya berada ditengah-tengah keluarga yang nyatanya sangat piawai memasak, khususnya masakan-masakan tradisional Bali. Ditambah menempuh pendidikan di BPLP Nusa Dua (sekarang STP), sekaligus bekal ilmu yang membawanya kerja berlayar di kapal pesiar mengelilingi berbagai negara.

“Dari situ saya mulai berpikir, ada rasa jengah. Kenapa kuliner atau masakan khas Bali yang kita miliki tidak kita kembangkan. Bila perlu masakan khas Bali itu bisa bersaing di dunia pariwisata bahkan bila perlu menjadi suguhan bagi wisatawan di hotel-hotel elit,” ungkap laki-laki yang punya nama panggilan Ketut Gogonk ini.

Karena kecintaannya, pengalaman dan juga dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang jago memasak, menjadikan Ketut Gogonk makin tertarik mengamati, mempelajari kuliner khas Bali. Rasa cintanya kepada rasa masakan-masakan khas Bali tersebut kemudian ia catat, ia tuangkan ke dalam sebuah buku “Resep Kuliner Warisan Leluhur Bali”.

Ia ungkapkan kalau bahan-bahan yang ada dalam buku tersebut merupakan hasil pengamatan di berbagai daerah di Bali. “Tidak ada buku, guru ataupun lontar yang saya jadikan acuan. Ini murni dari pengamatan dan pengalaman saya,” ujar laki-laki asal Mengwi, Badung yang semasa remaja justru menyukai musik blues ini.

Dalam buku setebal 114 halaman itu berisi 50 an jenis masakan khas Bali. Lengkap dengan nama masakan, resep atau bahannya serta disertai foto berwarna. Pembaca akan disajikan resep-resep kuliner / makanan khas Bali seperti : beraneka jenis “Sambel”, “Pesan”, “Jukut”, “Sate”, “Lawar” dan lain-lain.

Hanya saja menurut pandangan Ketut Gogonk, masakan dan minuman khususnya masakan tradisional Bali itu harus terus dikembangkan dengan segera memasukkan teknik memasak modern yang lebih mengedepankan sanitasi dan higenis ke dalamnya. “Seperti misalnya, jangan sampai kita nampah atau memotong babi di sungai atau telabah. Apalagi itu dilihat dan direkam oleh orang asing. Disamping tidak higenis, hal tersebut juga akan menimbulkan pandangan yang kurang baik,” pesannya. (SB-Raka)

Comments

comments

Comments are closed.