Ketua PHRI : Bali Tidak Tepat Jadi Destinasi Wisata Syariah

Repro Cok Ace (foto net).

1. Bali Pariwisata Budaya

SULUHBALI, Mangupura – Sebagai satu tujuan destinasi Pariwisata Internasional, Bali dinilai tidak tepat dan salah sasaran jika dijadikan salah satu destinasi wisata syariah.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Artha Ardana Sukawati yang akrab disapa Cok Ace menilai Bali menjadi destinasi Pariwisata internasional, selain karena keindahan alamnya. Bali juga terkenal karena wisata budaya, biarkan hal tersebut menjadi ciri khas Bali di dalam kebhinekaan.

“Bali kan menganut basis pariwisata budaya, sebagai destinasi Pariwisata biarkan sebagaimana halnya sekarang. Karena ini adalah bagian dari ke bhinekaan pariwisata kita,” ungkapnya, Sabtu (21/11/2015).

Menurutnya, masih banyak daerah yang memiliki potensi yang lebih untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata syariah. Misalnya seperti Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Aceh. Justru hal tersebut akan menjadi pilihan untuk destinasi Pariwisata Indonesia.

“Indonesia ini sangat luas sekali, seperti Aceh, Nusa Tenggara Barat atau Lombok. Justru itu kita lihat sinergitas sebagai pilihan pariwisata Indonesia. Mulai destinasi wisata syariah hingga destinasi wisata budaya,” ujarnya.

Cok Ace menilai Bali dirasa belum pantas untuk dijadikan destinasi syariah kalau hanya untuk marketnya. Meskipun saat ini wisatawan Timur Tengah adalah pasar yang sangat menjanjikan bagi perkembangan kunjungan wisata Bali. Bahkan tidak sedikit akomodasi pariwisata di Bali yang sudah menyadari hal itu. Misalnya melalui penyediaan makanan bersertifikat halal.

“Lebih baik kembalikan ke strategi masing-masing industri perhotelan. Ada satu hotel yang bekerja sama dengan kementerian Agama yang sering mengadakan seminar dengan menerapkan makanan halal. Tapi kalau ini sebagai destinasi biarkan ini menjadi sesuatu ke bhinekaan,” ucapnya.

2. Masyarakat Ekonomi Syariah

Ditemui secara terpisah Ida Bagus Ngurah Wijaya selaku ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali mengungkapkan masyarakat Bali telah bergejolak menyuarakan penolakan destinasi syariah, Termasuk melalui penyampaian komentar melalui media massa.

“Karena mereka membaca informasi di koran, sebenarnya masih banyak yang tidak tahu. Jadi masyarakat Bali saya harap bisa sabar dahulu, paling tidak jangan komentar macem-macem dahulu lah. Pahami dulu maksudnya seperti apa dan harus bisa menyikapi dengan bijak wacana ini,” sarannya.

Dalam waktu dekat GIPI akan segera mengumpulkan seluruh Stakeholder pariwisata termasuk dengan MES (Masyarakat Ekonomi Syariah) untuk dimintai penjelasan mengenai destinasi wisata syariah sehingga tidak muncul persepsi yang salah akan wacana tersebut.

“Kita Selasa (besok.red) rencana bertemu dengan semua stakeholder, termasuk dengan teman-teman dari Masyarakat Ekonomi Syariah. Saya ingin, dia (Masyarakat Ekonomi Syariah) bisa mempresentasikan, sehingga seluruh masyarakat dapat informasi yang tepat. Apakah Wisata Syariah yang dimaksud adalah marketingnya saja, ataukah destinasinya,” ujar Wijaya. (SB-Ijo)

3. Comments

comments

Comments are closed.