Ketika Laki-laki “Nyuwun” Gebogan Gantikan Peran Istri

340

SULUH BALI, Denpasar – Persembahyangan hari suci galungan di Desa Pakraman Ipah, Desa Sangkan Gunung, KecamatanSidemen, Kabupaten Karangasem nampak sama dengan persembahyangan di daerah-daerah lain. Akan tetapi uniknya, setelah persembahyangan para krama lanang (laki-laki) mengantikan peranan istri untuk “nyuwun” gebogan di pura.

Namanya persembahyangan ngebekang galungan yang bermakna dimana seluruh krama lanang-istri (laki-perempuan) dan agung-alit (krama besar dan anak kecil) mengikuti persembahan di pura puseh setempat. Diawali dengan persembahyangan seperti biasa dan setelah selesainya prosesi itu dilanjutkan dengan ngiderang (berkeliling) membawa gebogan di areal pura.

Tibalah setelah persembahyangan, para istri dengan sigap mengambil haturan gebogan yang telah dipersembahkan sebelumnya. Tidak kalah sigap, para suaminya pun mengikuti dimana istrinya dan mengambilkan gebogan itu.

Ada momen dimana para istri menaruhkan gebogan di atas kepala sang suami. Sementara suami (krama laki-laki) tidak menolak untuk membawa gebogan dan menjalankannya dengan suka cita nampak wajah yang begitu ceria.

Menurut penglingsir Desa Pakraman Ipah, Jro Mangku Yasa menyebutkan tradisi ini secara pasti belum diketahui kapan mulainya, namun inilah tradisi yang dijalankan hingga saat ini tetap ajeg. “Ini sudah dilaksanakan sejak dahulu, jika tidak mengikuti maka akan dikenai denda karena telah dihitung.” katanya, Rabu (5/4/2017).

Tradisi ini bahkan wajib untuk dilakukan oleh seluruh krama yang dimana selalu dihitung oleh saya (petugas krama pengayah), sehingga jika ada krama yang tidak mengikutinya akan dikenai dedosan pamidanda.

Tradisi ini merupakan persembahan kepada Ida Bhatara yang berstana di pura puseh yang dilakukan dengan mengelilingi areal utama mandala jeroan sebanyak tiga kali dan berlanjut ke jaba sisi mengitari pura Bale Agung.

Setelah krama desa lanang yang mengitari areal pura nyuwun gebogan selanjutnya krama istri melakukan hal yang sama, namun tanpa gebogan hanya mengitari areal pura. Sarana mengitari areal pura yang berada pada barisan depan seperti pecanangan, pasepan dan petabuhan baru kemudian diikuti krama lanang dengan gebogan serta prosesi kedua yang dilakukan krama istri. (SB-Skb)

Comments

comments