Keterlaluan | Ketua Yayasan Sodomi 4 Anak Asuh

816
Pelaku paedofili bertopeng saat ditunjukan pada wartawan (foto rio).

SULUH BALI, DENPASAR – Mantan ketua Yayasan Bantuan Anak Indonesia berinisial NS (47) asal Karangasem, Bali dibekuk oleh aparat kepolisian dari Ditreskrimum Polda Bali karena terbukti telah melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang merupakan anak asuhnya di yayasan di Buleleng.

Kepada Wartawan Kasubdit IV Direskrimum AKBP Sang Ayu Putu Alit Saparini menjelaskan bahwa terungkapnya kasus tersebut berdasarkan informasi dari masyarakat bahwa pelaku dalam kesehariannya selama menjadi ketua yayasan telah memperlakukan istimewa terhadap beberapa anak asuhnya secara eksklusif.

“Ini merupakan kecurigaan awal. Laporan tersebut ditindaklanjuti oleh penyidik. Pelaku kita panggil untuk diperiksa. Dan dalam keteranngannya pelaku mengakui jika dirinya telah melakukan perbuatan asusila dengan beberapa anak seperti sodomi, oral seks dan onani,” ujarnya dalam keterangan Pers di Mapolda Bali pada, Senin (4/9)

Sang Ayu menjelaskan pelaku mengakui jika perbuatan tersebut sudah dilakukan sejak tahun 2007 silam sampai 2016 dengan korban yang berbeda-beda. Semua korban adalah laki laki. Hingga saat ini yang terungkap baru 4 orang korban yakni MK, BD, RW, dan MK. Memang pelaku mengakuinya hanya melakukan kepada 4 orang tersebut, sementara 1 korbannya masih bersifat pendekatan tetapi langsung ditolak oleh korban.

Untuk melengkapi keterangan tersebut, penyidik sudah memeriksa 22 saksi baik pegawai yayasan, mantan pegawai yayasan, anak-anak yang pernah diasuh oleh yayasan tersebut. TKP-nya ada di rumah pelaku dan beberapa TKP lainnya. Korban berasal dari Karangasem. Jumlah korbannya baru 4 orang yang terungkap. Pelaku sudah melakukan hal tersebut sejak tahun 2007 lalu. Ada pun barang bukti yang sita polisi yakni baju kaos, jam tangan, satu layar monitor, HP dan semua barang tersebut adalah hadiah bagi para korban agar bisa memenuhi hasrat seksualnya.

Kepada penyidik pelaku yang sudah menikah dan dikaruniai anak ini mengakui jika dirinya baru mengalami disorientasi seksual justeru setelah memiliki anak. “Kami bertanya dan pelaku menjawab jika saat kontak seksual tersebut, pelaku merasa sedang berhubungan dengan pasangannya,” ujarnya.

Saat melakukan hubungan atau kontak seksual tersebut, korban diberikan uang belanja, baju, dan sebagainya. Korban memang tidak pernah mengadu karena diancam akan dikeluarkan dari yayasa, sementara para korban berasal dari orang tua tidak mampu. Rata-rata usia korban saat melakukan kontak seksual tersebut antara 13 sampai 15 tahun dan satu diantaranya masih anak-anak. Saat ini para korban sedang diirehab dan hasilnya menunjukan kemajuan yang signifikan. “Dalam proses penyembuhan tersebut, melibatkan psikiater, lalu mereka sadar kalau itu perbuatan yang salah dan ingin mengubahnya,” ujarnya.

Atas perbuatan bejatnya, pelaku dijerat dengan pasal berlapis yakni pasal 76 E juncto pasal 82 ayat 1 UU RI No 35 Tahun 2014 tentang perubahan UU RI No 23 Tahun 2002 tentang pperlindungan anak juncto pasal 289 KUHP tentang pencabulan terhadap anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun dan minimal 3 tahun dan atau denda paling banyak Rp 300 juta atau paling sedikit Rp 60 juta. “Kini kasusnya dinyatakan sudah P21 dan akan dilimpahkan ke Kejaksaan bersama barang bukti dan tersangka,” ujarnya. (SB-Rio)

 

Comments

comments