“Kesidian” Dalem Sidakarya | Leak dan Mahluk Halus Sebagai Pengikutnya, Namun Penuh Kasih

4336

SULUH BALI, Denpasar – Mendengar kata Sidakarya, maka pikiran akan tertuju pada salah satu karakter topeng dalam kesenian sakral agama Hindu.

Topeng Sidakarya menggambarkan tentang keberadaan Brahmana Keling seperti yang disebutkan dalam Purana Dalem Sidhakarya sebagai Brahmana yang berpenampilan kotor serta compang-camping.

Namun, meskipun memiliki penampilan yang demikian tetapi memiliki kesidian (kekuatan) yang setara dengan para dewata sebagai pemarisuda jagat (pembersih alam semesta).

Berkat kesidiannya, segala macam alat upacara yang nenjadi baik dikutuk menjadi busuk serta terjadi kegeringan dan marabahaya di Bali. Namun kemudian dikembalikan lagi seperti semula sehingga upacara besar Ekadasa Rudra bisa dilaksanakan dengan baik.

Dari kekuatan dan keberhasilannya dalam ikut memuput yajna itu kemudian memunculkan nama Dalem Sidhakarya yang merupakan gelarnya sebagai saudara Raja Dalem Waturenggong.

Selain itu, dalam penggambaran Dalem Sidhakarya dalam topeng di Bali juga memperlihatkan bagiamana kesidian sang Brahmana tersebut.

Wajah yang terlihat meneramkan dengan tertawa menganga serta terlihat menyeramkan memperlihatkan setengah manusia setengah raksasa.

Brahmana Sidhakarya juga memiliki pengikut para desti, leak, dedemit, setan, jin dan berbagai mahluk halus lainnya.

Meskipun penggambarannya demikian dan memiliki pengikut mahluk halus, Brahmana Sidakarya sesunguhnya adalah sosok yang lemah lembut dan penuh kasih. Hal itu digambarkan dengan pengampunannya terhadap segala macam kesalahan yang dilakukan raja maupun para rakyatnya sehingga upacara dapat berjalan dengan baik.

Begitu pula tanpa adanya tari topeng Sidakarya segala macam persembahan yadnya tidak dinyatakan berhasil sehingga Brahmana Sidakarya adalah termasuk salah satu pemuput karya.

Selain itu, kasih Brahmana Sidakarya juga dapat dilihat dalam pementasan topeng wali Sidakarya dimana pada ahir penari topeng Sidakarya mendekati seorang anak dan memberikan jatu berupa uang dan memercikkan tirta sebagai simbol anugerah kepada anak tersebut. (SB*)

Baca juga : http://suluhbali.co/brahmana-keling-datang-ke-bali-dihina-pada-akhirnya-menjadi-dalem-sidakarya/

Comments

comments

Comments are closed.