Poster film.

SULUH BALI, Mangapura – Pipin (Putri Ayudya) memimpikan jodoh seorang pria bule. Segala macam cara dia lakukan. Mulai dari hunting bule-bule di aplikasi dating online sampai bar-bar di area Jakarta dikunjungi, demi mendapatkan pacar bule. Namun hasilnya nihil.

Atas anjuran Arik (Michael Kho) sahabatnya, Pipin pindah ke Bali meneruskan pencariannya. Disana, Pipin bagai di surga. Gianfranco (Cornelio Sunny), seorang cowok bule dari ltali yang punya bisnis villa tergila-gila padanya, begitu pula seorang pengusaha restoran Ben (Natalius Chendana) juga jatuh hati pada Pipin.

Namun kehidupan di Bali tak seindah yang Pipin bayangkan. Tabungan kian menipis, tempat tinggal yang mahal dan pekerjaan tetap tak kunjung datang membuat Pipin terbentur dilema.

Akankah Pipin menggantungkan hidupnya pada lelaki yang dapat menafkahinya atau tetap menjadi perempuan yang mandiri namun tetap jomblo?

Sebuah komedi satir tentang seorang perempuan Indonesia yang terobsesi untuk mendapatkan jodoh pria bule dan rela melakukan apapun demi mewujudkan impiannya tersebut.

“Saya selalu tergelitik dengan definisi kecantikan di tiap kultur, terutama di masyarakat kita. Ada perasaan janggal ketika saya melihat hampir semua produk perawatan kulit yang ada di Indonesia adalah produk pemutih kulit. Mereka dengan gencar menyerukan definisi kecantikan mereka melalui iklan-iklan di beragam media, bahwa cantik itu harus putih. Tekanan menjadi cantik versi produk kecantikan dan media ternyata menyusup di mayoritas masyarakat kita. Kalau mau dibilang cantik, nomor satu kulit harus putih. Kalau bisa bersinar. Rambut harus halus lembut supaya saat pacar membelai, pacar akan tersenyum senang. Sementara kita tau, berapa banyak suku asli Indonesia yang terlahir dengan kulit putih bersinar dan rambut halus selembut sutera? Tidak banyak. Dan berapa banyak produk kecantikan yang mampu memutihkan kulit hingga bersinar?,” tutur Andri Cung seorang Sutradara dan Penulis.

“Kenapa Harus Bule?” merupakan film panjang kedua milik Andri Cung. Film ini ditulis dan disutradarai sendiri olehnya dan akan tayang di bioskop mulai 22 Maret 2018 serentak di seluruh Indonesia.

“Saat ini kita memang hidup di masyarakat yang sangat mudah menghakimi. Penampilan luar selalu menjadi tolak ukur untuk mendefinisikan seseorang. Tidak hanya terhadap perempuan seperti sahabat saya saja, tapi hampir ke semua lapisan sosial dan gender. Bahkan kalau mau jujur, saya termasuk salah satu manusia ibukota yang cukup judgemental. Sadar akan hal itu, rasa malu dan gelisah-pun menyusup, yang akhirnya saya tuangkan dalam sebuah naskah. Hasil akhirnya adalah film ini, “Kenapa Harus Bule?”, tentang perempuan Indonesia yang gila bule, namun sialnya selalu bertemu bule yang ”gila”. Tentang bagaimana tiap-tiap diri kita ternyata memang pernah menjadi korban penghakiman, namun juga kerap menghakimi. Tentang pencarian diri dan penerimaan diri yang dikemas dalam kisah pencarian kita sebagai manusia untuk an mendapatkan satu hal dasar yang kita penting-kan yang disebut cinta,” tambahnya.  (SB-cas)

Comments

comments