Peserta Bali Art Carnaval, Serangkaian Bali Mandara Nawanatya III 2018

SULUH BALI, Denpaasar – Seperti juga tahuan-tahun sebelumnya, kalangan seniman muda Bali kembali diberikan panggung untuk menampilkan karya-karya mereka lewat ajang Bali Mandara Nawanatya 2018. Acara yang dipusatkan di Taman Budaya (Art Center) Denpasar ini akan berlangsung cukup lama, yakni dari tanggal 3 Maret 2018 sampai dengan 8 Desember 2018.

Acara yang sepenuhnya menampilkan kreatifitas berkesenian para seniman muda Bali ini akan mengisi Taman Budaya setiap akhir pekan, yakni setiap hari Jumat, Sabtu dan hari Minggu. Sehingga disebut sebagai Pesona Budaya Bali, Gelar Seni Akhir Pekan (GSAP) Bali Mandara Nawanatya. Untuk tahun 2018 ini sudah menginjak tahun ke III.

Kegiatan dan gelar seni bagi seniman-seniman muda Bali ini, merupakan ide dan gagasan Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang menginginkan Taman Budaya tetap “hidup” oleh kegiatan seni sepanjang tahun. “Jangan sampai setelah acara Pesta Kesenian Bali (PKB), Taman Budaya menjadi sepi tidak ada aktivitas kesenian,” ungkap Mangku Pastika suatu ketika terhadap penyelenggaraan Bali Mandara Nawanatya maupun Bali Mandara Mahalango yang kini rutin diadakan setelah Pesta Kesenian Bali itu. Dengan demikian Taman Budaya sekarang sepanjang tahun terus-menerus diisi oleh kegiatan dan gelar kesenian. Baik kesenian tradisi Bali maupun kesenian modern. Sekaligus memberikan ruang bagi kalangan generasi muda berkreatifitas di bidang kesenian lewat Bali Mandara Nawanatya ini.

Hal itupun ia sampaikan saat melepas peserta pawai Bali Art Carnaval II di Depan Jaya Sabha, Sabtu sore (3/3/2018), sekaligus menandai dimulainya Bali Mandara Nawanatya III tahun 2018 ini. Saat itu  semua peserta pawai Bali Art Carnaval adalah kalangan pelajar, mahasiswa dan komunitas seni. Menurutnya, Bali Art Carnaval juga sekaligus memberikan kesempatan bagi kalangan seniman muda untuk berkreatifitas di bidang fashion. Saat itu, Pastika mengapresiasi setelah menyaksikan, banyak bahan-bahan bekas yang mampu didaur ulang menjadi kreasi busana yang menarik oleh peserta pawai.

“Pembangunan budaya kita , dalam rangka memberikan ruang kepada para seniman, khususnya seniman-seniman muda yang bergerak di bidang fashion. Tetapi dengan tema Bali Clean and Green. Jadi karena itu tadi yang ikut carnaval menggunakan bahan-bahan bekas, plastik-plastik bekas, botol-botol bekas dan sebagainya. Sehingga dengan demikian mudah-mudahan ide kita untuk daur ulang untuk menggunakan kembali sampah kita yang masih bisa kita pakai. Idenya kesana. Sehingga dengan demikian, persoalan sampah kita, kebersihan kita ternyata juga mampu memberikan inspirasi, motivasi bagai para seniman kita,” ungkap Pastika terkait busana yang dibawakan oleh para peserta carnaval sore itu. (SB-Rk)

Comments

comments